bytedaily - Menurut laporan dari nature.com, daur ulang baterai kendaraan listrik (EV) yang sudah habis masa pakainya menjadi komponen krusial dalam strategi netralitas karbon global seiring dengan transisi energi. Namun, sistem daur ulang yang ada saat ini seringkali menghadapi ketidaksesuaian dalam hal spasial, teknologi, dan kebijakan, yang berujung pada terbatasnya manfaat lingkungan.
Sebuah kerangka kerja analitis multi-skala telah dikembangkan, mengintegrasikan pembelajaran mesin, penilaian siklus hidup, dan pemodelan skenario terintegrasi spasial. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi jejak lingkungan dan potensi pemulihan sumber daya dari sistem daur ulang baterai. Kerangka kerja ini memungkinkan proyeksi tren pembuangan baterai dengan resolusi tinggi, penilaian teknologi daur ulang, serta optimalisasi strategi pasokan dan permintaan.
Studi kasus di Tiongkok menunjukkan bahwa selama periode 2020–2030, volume total baterai bekas diperkirakan mencapai 16,67–19,99 juta metrik ton, dengan pola migrasi hotspot dari wilayah timur laut ke barat daya dan barat laut. Koordinasi antarprovinsi berpotensi meningkatkan utilisasi kapasitas pengolahan hingga 67,12%, namun tidak dapat sepenuhnya mengatasi ketidaksesuaian spasial antara pasokan baterai bekas dan kapasitas pengolahan yang tersedia.
Skenario optimalisasi yang dilakukan menunjukkan bahwa perencanaan pasokan-permintaan dapat mengurangi emisi hingga 44% dan meningkatkan pemulihan litium sebesar 53%. Hasil penelitian ini menyediakan alat yang dapat diskalakan untuk merancang sistem daur ulang baterai yang rendah karbon dan efisien, serta berkontribusi pada ekonomi sirkular dan transisi energi.