bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi bahwa penurunan kualitas udara di Jakarta dan sekitarnya dapat terjadi akibat perpaduan antara musim kemarau dan fenomena El Nino. Namun, BMKG menegaskan bahwa hal ini bukan disebabkan oleh peningkatan jumlah polutan.
Menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, kualitas udara menurun karena berkurangnya curah hujan. Hujan memiliki peran penting dalam membersihkan atmosfer dari akumulasi polutan. Ardhasena menjelaskan bahwa sumber polutan, seperti dari aktivitas transportasi, industri, dan pembangkit energi, tetap ada setiap saat. Dengan minimnya curah hujan, proses pembersihan atmosfer secara alami menjadi terhambat.
BMKG memprediksi fenomena El Nino akan aktif dan berlangsung hingga awal tahun 2027. Peluang El Nino dengan intensitas moderat diprediksi mencapai 98 persen, sementara peluang intensitas kuat mencapai 62 persen. Fenomena El Nino diketahui dapat menyebabkan anomali iklim global dengan pola dan durasi yang bervariasi di setiap wilayah.
Khususnya di wilayah tropis seperti Indonesia, El Nino cenderung menekan curah hujan, sehingga menciptakan kondisi yang lebih kering antara bulan Juni hingga Januari. Ardhasena juga memperkirakan suhu di Jakarta akan terasa lebih panas pada akhir September hingga Oktober, bertepatan dengan posisi matahari melintas di atas Pulau Jawa. Sebelum periode tersebut, yaitu pada Juli dan Agustus, udara kering akibat minimnya hujan akan disertai dengan penurunan kelembapan, yang merupakan ciri khas puncak musim kemarau di Jawa.