bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa meskipun musim kemarau semakin meluas di Indonesia, beberapa wilayah masih berpeluang diguyur hujan. Namun, BMKG memperkirakan intensitas hujan akan mengalami penurunan.
Menurut analisis BMKG, memasuki dasarian III Juni 2026, wilayah yang mengalami musim kemarau diprakirakan akan bertambah. Sifat hujan selama musim kemarau secara umum diprediksi berada pada kategori di bawah normal di sebagian besar wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.
Kondisi ini sejalan dengan perkembangan indikator El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang menunjukkan kecenderungan menuju fase hangat dengan intensitas moderat di Pasifik tropis bagian tengah hingga timur. Nilai indeks Niño 3.4 tercatat +0,92 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -23,1, yang berkontribusi pada berkurangnya peluang pembentukan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Meskipun demikian, BMKG mengingatkan bahwa potensi hujan tetap perlu diwaspadai karena dinamika atmosfer regional dan faktor lokal masih bisa mendukung pertumbuhan awan hujan. Pola siklonik diprediksi terbentuk di Samudra Pasifik utara Papua Barat dan di Samudra Hindia barat Sumatra, yang dapat memicu perlambatan dan pertemuan angin.
Selain itu, kondisi atmosfer lokal di beberapa wilayah menunjukkan tingkat labilitas yang mendukung proses konveksi. Udara yang labil ini berpotensi memperkuat pertumbuhan awan konvektif, khususnya di Aceh, Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua.
BMKG menjelaskan bahwa kombinasi faktor-faktor tersebut memungkinkan peluang hujan tetap terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari mendatang, meskipun secara umum sebagian besar wilayah telah memasuki periode musim kemarau. Bahkan, beberapa wilayah seperti Sumatra Utara dan Kepulauan Bangka Belitung pada 19-21 Juni, serta Papua Pegunungan pada 22-25 Juni, berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat.
Analisis dasarian I Juni 2026 menunjukkan perluasan wilayah kemarau meliputi sebagian Sumatra, sebagian besar Jawa, sebagian Bali, sebagian besar Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan Tengah, sebagian kecil Sulawesi Selatan, sebagian Maluku, dan sebagian kecil Papua Selatan. Hal ini menandakan peningkatan jumlah wilayah yang mengalami penurunan curah hujan.
Meskipun demikian, hujan dengan intensitas signifikan masih tercatat di sejumlah wilayah, terutama di Indonesia bagian utara dan wilayah ekuator. Pada periode 15-18 Juni 2026, hujan lebat hingga sangat lebat dilaporkan terjadi di Kalimantan Barat (165 mm/hari), Sumatra Utara (113 mm/hari), Aceh (96 mm/hari), Sumatra Barat (94 mm/hari), Jambi (74 mm/hari), dan Kepulauan Riau (62 mm/hari).
BMKG mengaitkan kejadian hujan lebat ini dengan aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial di Sumatra, Gelombang Kelvin di sebagian Sumatra dan Kalimantan, serta sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Sumatra yang membentuk daerah konvergensi dan belokan angin.