bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, atlet tim nasional voli putra Indonesia, Boy Arnez Arabi, menceritakan bagaimana timnya berhasil membalas kekalahan dari Korea Selatan dan akhirnya meraih gelar juara di AVC Men's Volleyball Cup 2026. Dalam pertandingan final, Indonesia sukses mengalahkan Korea Selatan dengan skor telak 3-0. Sebelumnya, pada babak penyisihan, tim Merah Putih sempat takluk 2-3 dari tim Negeri Ginseng.
Boy Arnez menyatakan bahwa kekalahan di awal penyisihan menjadi motivasi tersendiri bagi timnya. "Mungkin karena awalnya kalah, itu jadi pukulan mental untuk kami. Dari netizen juga berharap lebih dan kami pun bisa move on lawan Qatar. Jadi kami merasa bahwa ini bisa [menang lawan Korea]. Mungkin di situ titik baliknya," ungkapnya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin (29/6).
Selain membawa pulang trofi juara, pemain yang berposisi sebagai Outside Hitter ini juga meraih penghargaan individu sebagai Most Valuable Player (MVP) di ajang tersebut. Ia mengapresiasi peran pelatih Reidel Toiran yang dinilainya sebagai kunci dalam mengasah kemampuan para pemain. "Pelatih [Reidel Toiran] orangnya kalem dan bisa membuat anak-anak bisa mengeluarkan kemampuannya. Jadi sebenarnya tidak ada tekanan, tidak ada tekanan dari dalam," jelasnya.
Lebih lanjut, atlet berusia 22 tahun itu membeberkan faktor keberhasilan timnas meraih sejarah baru bagi Indonesia. Ia menyebutkan bahwa konsistensi dalam menjaga pola makan dan kekompakan tim menjadi elemen penting dalam setiap pertandingan. "Kalau dari saya pribadi selalu jaga pola makan dan peregangan di pagi hari. Untuk di pertandingan, kami hanya coba saling percaya satu sama lain," tuturnya.
Sementara itu, pelatih Reidel Toiran menegaskan bahwa target juara selalu menjadi prioritas utama timnya. Meskipun menyadari adanya berbagai kemungkinan dalam setiap pertandingan, juru taktik asal Kuba ini selalu menanamkan mental juara kepada para atletnya. "Kalau dari saya selalu ketika memegang tim pasti ingin juara. Nanti situasinya akan seperti apa, terserah. Memang realita sering berbeda," pungkasnya.