bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) menyebut emisi karbon akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia pada Januari-September 2026 termasuk yang tertinggi dalam 24 tahun terakhir. Kebakaran yang terjadi sejak akhir Juli di hutan, lahan pertanian, dan gambut menghasilkan asap yang menurunkan kualitas udara di hampir seluruh Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Prakiraan CAMS pada 20 Oktober pukul 09.00 UTC memperlihatkan gumpalan asap meluas hingga hampir menutupi seluruh wilayah Indonesia. Data CAMS Global Fire Assimilation System menunjukkan emisi karbon meningkat tajam sejak Agustus. Hingga Oktober 2026, emisi kumulatif diperkirakan sekitar 180 juta ton karbon, lebih tinggi dari rata-rata historis tahunan yang berkisar 75-80 juta ton.
Meski demikian, angka tahun ini masih di bawah emisi pada 2015, yang tercatat sekitar 380 juta ton karbon. Dalam periode 13-19 Oktober, Indonesia menjadi penyumbang emisi terbesar dari total global 35,9 juta ton, dengan kontribusi 19,6 juta ton karbon atau naik 245 persen dibandingkan rata-rata historis.
Untuk periode yang sama, Kalimantan Tengah mencatat emisi karbon harian tertinggi, yaitu 1,32 juta ton. Berikutnya Sumatra Selatan dengan 589 ribu ton dan Kalimantan Barat sebesar 513 ribu ton.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan 570,08 hektare lahan masih menjalani pemadaman dan pendinginan di enam provinsi prioritas. Dari total target penanganan 1.024,33 hektare, tim gabungan telah memadamkan 454,25 hektare, berdasarkan data per 19 Oktober 2026.
Kalimantan Tengah memiliki area yang belum padam paling luas, yakni 389,39 hektare dari target 452,49 hektare. Di Sumatra Selatan, 108,50 hektare dari target 401,67 hektare masih belum padam. Jambi mencatat 64,50 hektare dari target 96,50 hektare, sedangkan Kalimantan Selatan menyisakan 7,50 hektare dari target 58,45 hektare.
Di Kalimantan Barat, area yang belum padam tersisa 0,19 hektare dari target 11,92 hektare. Sementara itu, seluruh lahan terdampak karhutla seluas 3,30 hektare di Riau telah berhasil dipadamkan. Di luar enam provinsi prioritas, BNPB memperkirakan luas lahan terbakar mencapai 572,90 hektare; sebanyak 107,77 hektare di antaranya telah dipadamkan.