bytedaily
Sabtu, 04 Juli 2026 - 05:43 WIB

China Operasikan Pusat Data Bawah Air Bertenaga Angin Pertama di Dunia

Redaksi 10 Juni 2026 12 views
China Operasikan Pusat Data Bawah Air Bertenaga Angin Pertama di Dunia
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, China telah resmi mengoperasikan pusat data bawah air pertama di dunia yang memanfaatkan tenaga angin. Fasilitas ini berlokasi di lepas pantai Shanghai dan memiliki kapasitas 24 megawatt (MW), di mana peluncuran perdananya dilakukan pada Mei 2026.

Proyek yang dikenal sebagai The Shanghai Lingang ini merupakan hasil kolaborasi antara HiCloud Technology dan China Communication Construction, sebuah perusahaan milik negara. Investasi yang digelontorkan untuk proyek ini mencapai 1,6 miliar yuan.

Pembangunan pusat data hijau ini sejalan dengan rencana aksi kecerdasan buatan (AI) China yang dirilis tahun lalu. Tujuannya adalah untuk mempercepat pembangunan pusat data dan meningkatkan pasokan energi bersih untuk infrastruktur AI secara signifikan pada tahun 2030.

Terletak lebih dari 10 kilometer dari garis pantai Shanghai dan pada kedalaman 10 meter di bawah permukaan laut, fasilitas ini diklaim mampu mengurangi konsumsi daya lebih dari seperlima dibandingkan pusat data konvensional di darat. Penghematan daya ini dicapai melalui pemanfaatan langsung efek alami air laut untuk sistem pendinginan, yang pada pusat data konvensional dapat menghabiskan 25 hingga 40 persen kebutuhan listrik hanya untuk mengalirkan air pendingin.

Selain menghemat energi, penempatan di bawah laut juga secara drastis mengurangi penggunaan air tawar. Kebutuhan air yang besar untuk pendinginan menjadi salah satu masalah signifikan pada pusat data konvensional yang menopang teknologi AI. Laporan dari Institute for Water, Environment and Health Universitas PBB (UNU) memproyeksikan jejak air global pusat data akan mencapai 9,3 triliun liter pada 2030, setara dengan kebutuhan air domestik tahunan 1,3 miliar penduduk di kawasan sub-Sahara Afrika.

Operasional pusat data di Lingang sepenuhnya didukung oleh energi angin lepas pantai, membedakannya dari proyek komersial bawah air pertama HiCloud di Pulau Hainan pada 2023 yang belum terintegrasi dengan tenaga angin.

Meski demikian, China bukan negara pertama yang bereksperimen dengan pusat data bawah air. Microsoft telah lebih dulu meluncurkan proyek percontohan serupa di perairan Orkney, Skotlandia, pada 2018. Namun, proyek Microsoft tersebut kini dilaporkan mandek.

Hanjiang Dong, dosen Hong Kong Polytechnic University, seperti dikutip dari The Guardian, menyatakan bahwa sementara Microsoft berhasil membuktikan konsepnya, China melangkah lebih jauh ke penyebaran komersial berkat kemampuan menyatukan permintaan pasar, kapabilitas industri, teknik kelautan, dan dukungan kebijakan secara lebih cepat.

Meskipun demikian, keberadaan pusat data bawah air tetap memiliki potensi risiko lingkungan, seperti gangguan pada sedimen laut dan peningkatan suhu air di sekitarnya. Namun, para pakar menilai dampak tersebut masih berada dalam batas aman dan dapat dikelola.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.