bytedaily - Melansir laporan dari usatoday.com, Portugal telah mencapai babak gugur Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun, sebuah pencapaian yang belum pernah diraih sebelumnya oleh tim nasional tersebut. Kini, pertanyaan besar tertuju pada apakah bintang utamanya, Cristiano Ronaldo, dapat memenuhi ekspektasi di fase krusial ini.
Cristiano Ronaldo telah menjadi ikon timnas Portugal selama bertahun-tahun, membawa timnya menjadi langganan di turnamen Eropa dan Piala Dunia. Perjalanan ini merupakan Piala Dunia keenam dan terakhir baginya, di mana ia telah mencetak sejarah sebagai pria pertama yang mencetak gol di enam edisi Piala Dunia yang berbeda.
Meskipun Ronaldo termasuk dalam jajaran 17 pemain yang telah mencetak minimal 10 gol di Piala Dunia, kariernya di turnamen ini memiliki catatan yang perlu diperhatikan, terutama dalam fase gugur. Sejak babak 32 besar, Ronaldo ditantang untuk memperkuat warisannya.
Ronaldo diakui sebagai salah satu bintang sepak bola paling populer dan sukses, dengan segudang trofi liga dan penghargaan individu, termasuk lima Ballon d'Or. Namun, Piala Dunia sering dianggap sebagai tolok ukur kesuksesan tertinggi dalam sepak bola, turnamen yang telah mengukuhkan nama-nama seperti Diego Maradona, Pele, Ronaldo Nazário, dan Lionel Messi sebagai legenda abadi.
Pencapaian terbaik Portugal bersama Ronaldo di Piala Dunia adalah peringkat keempat pada tahun 2006, di mana ia masih menjadi pemain muda dalam tim yang dipimpin oleh generasi emas seperti Maniche, Luís Figo, dan Ricardo. Sejak saat itu, Portugal yang diperkuat Ronaldo hanya mampu meraih satu kemenangan di babak 16 besar (pada tahun 2022) dari tiga kali penampilan di fase gugur.
Lebih lanjut, performa Ronaldo di Piala Dunia juga menjadi sorotan. Dari 10 gol yang dicetaknya dalam enam turnamen, tujuh gol tercipta melawan tim yang finis di posisi terbawah grup Portugal pada masing-masing turnamen. Tim-tim tersebut termasuk Korea Utara, Ghana (dua kali), dan Uzbekistan. Gol-gol tersebut dinilai kurang mengesankan jika dibandingkan dengan dominasi tim lain terhadap lawan yang sama. Ketika menghadapi kompetisi yang lebih ketat, Ronaldo kerap kesulitan menunjukkan performa terbaiknya.