bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa pembangunan panel surya berskala besar di China telah berkontribusi pada penurunan keanekaragaman burung di negara tersebut. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science ini menyoroti potensi dampak tersembunyi dari ekspansi energi surya terhadap keanekaragaman hayati.
Para peneliti mengaitkan penurunan keanekaragaman burung dengan kebijakan yang mendorong pengembangan energi surya, yang menyebabkan konversi lahan pertanian dan padang rumput secara cepat untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga surya. Fenomena ini diistilahkan sebagai "green dilemma", yaitu situasi di mana upaya pengurangan emisi karbon berbenturan dengan pelestarian lingkungan.
Huiming Zhang dari Nanjing University of Information Science & Technology, penulis utama studi tersebut, menekankan bahwa pesan utama dari penelitian ini bukanlah untuk menghambat transisi ke energi terbarukan. Sebaliknya, ia menyarankan agar pembangunan energi surya lebih mempertimbangkan aspek ekologis.
Dorongan China untuk mencapai netralitas karbon sebelum tahun 2060 telah memicu transformasi besar dalam sektor energi terbarukan. Diperkirakan pada tahun 2024, luas lahan yang digunakan untuk energi surya akan mencapai 4.520 kilometer persegi, setara dengan luas negara bagian Rhode Island di Amerika Serikat. China memproyeksikan energi surya akan menyumbang sekitar 45 persen dari bauran energi nasionalnya pada tahun 2060.
Penentuan lokasi pembangkit energi surya di China tidak hanya mempertimbangkan faktor sinar matahari dan ketersediaan lahan, tetapi juga disesuaikan dengan "Rencana Lima Tahun" pemerintah untuk mendorong pembangunan ekonomi di wilayah tertentu.
Dalam penelitiannya, Zhang dan timnya menganalisis data dari 2.344 kabupaten di China antara tahun 2014 hingga 2023, dengan memperhatikan perbedaan kebijakan pengembangan energi surya, tren nasional, cuaca, kondisi ekonomi, tutupan lahan, dan aktivitas pengamatan burung. Metode partisipasi masyarakat juga digunakan untuk memahami dampak terhadap keanekaragaman burung.
Hasil studi menunjukkan adanya hubungan negatif: semakin ketat kebijakan yang mendorong energi surya, semakin besar pula penurunan keanekaragaman burung, meskipun dampaknya tergolong sedang. Dampak ini lebih terasa di wilayah yang lebih makmur dan bukan gurun.
Penelitian ini juga menemukan penurunan signifikan pada populasi burung menetap dan burung migran. Namun, spesies burung dari habitat pegunungan atau wilayah yang kurang sesuai untuk pembangkit listrik tenaga surya tidak terpengaruh.
Para peneliti mencatat bahwa pengembangan pembangkit listrik tenaga surya di China seringkali disertai dengan inisiatif penghijauan. Namun, mereka mengidentifikasi adanya penghijauan yang berkualitas rendah, yang meskipun meningkatkan tutupan vegetasi secara total, justru menurunkan kualitas ekologis akibat homogenitas tanaman.
Menurut Yuanning Liang dari Universitas Peking, burung merupakan indikator yang efektif untuk penilaian keanekaragaman hayati berskala besar karena ketersediaan data populasi mereka yang konsisten di berbagai waktu dan wilayah. Ia menambahkan bahwa meskipun penelitian ini berfokus pada energi surya, isu yang diangkat juga relevan untuk pengembangan energi terbarukan lainnya.