bytedaily - Melansir laporan dari nytimes.com, gelaran Piala Dunia 2026 di Amerika Utara telah diwarnai berbagai kontroversi, terutama terkait dengan isu tiket. Perjalanan menuju turnamen ini diwarnai pertanyaan seputar cara mendapatkan tiket Piala Dunia, yang kemudian berkembang menjadi kemarahan publik atas penetapan harga, pengajuan keluhan hukum, kebingungan mengenai penjualan tiket yang dinilai lambat, dan berbagai isu lainnya.
Menjelang dimulainya pertandingan perdana, banyak penggemar bertanya-tanya bagaimana FIFA, badan sepak bola dunia yang seharusnya nirlaba, bisa menjadikan Piala Dunia sebagai ajang yang memicu penyelidikan hukum dan perdebatan mengenai keserakahan kapitalistik.
Salah satu poin utama frustrasi penggemar adalah minimnya transparansi dari FIFA. Sejak Piala Dunia 2026 dianugerahkan kepada Amerika Utara pada tahun 2018, FIFA baru merilis informasi mengenai proses ticketing pada September 2025. Hal ini berbeda dengan penyelenggaraan Piala Dunia sebelumnya, di mana FIFA mengumumkan detail tiket jauh lebih awal. Misalnya, untuk Piala Dunia 2018 di Rusia, FIFA telah mengumumkan harga tiket dan rinciannya hampir dua tahun sebelum turnamen.
Sebaliknya, pada Piala Dunia 2026, hampir seluruh aspek proses ticketing diselimuti ketidakjelasan. FIFA enggan memberikan keterangan mengenai jumlah tiket yang akan tersedia, untuk pertandingan mana saja, dalam fase apa, dan dengan harga berapa. Ketidakpastian ini menimbulkan kecemasan baik bagi penonton lokal maupun internasional yang hanya ingin mengetahui cara untuk menyaksikan pertandingan Piala Dunia secara langsung.