bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sekelompok mahasiswa Teknik Elektro dan Teknik Mesin Universitas Diponegoro (Undip) berhasil menciptakan inovasi bio‑hybrid bernama Roach Detect, yang memanfaatkan kecoak berdesis Madagaskar sebagai unit pencari dalam operasi penyelamatan korban bencana alam.
Tim mengembangkan sistem ini setelah menyadari keterbatasan tim SAR dalam menembus celah‑celah sempit pada reruntuhan, yang sering tidak dapat dijangkau oleh robot konvensional, anjing penyelamat, maupun peralatan berat. Karena ukuran tubuhnya yang kecil dan kemampuan merayap, kecoak dipandang dapat meningkatkan efektivitas pencarian di area berbahaya.
Roach Detect tidak memerlukan energi tambahan untuk pergerakan kecoak; baterai hanya menyuplai daya bagi sensor dan modul kontrol. Pada uji simulasi, perangkat menunjukkan keunggulan dalam menelusuri celah‑celah sempit pada zona rawan longsor, dimana anjing SAR tidak dapat masuk dan penggunaan alat berat berpotensi memperparah kondisi.
Sistem bio‑hybrid ini dilengkapi dengan "electronic backpack" berbasis mikrokontroler ESP32‑C6 SuperMini yang mengintegrasikan Wi‑Fi, pemrosesan data orientasi giroskop, sensor termal, serta komunikasi nirkabel. Sensor kamera termal tipe AMG8833 dengan resolusi 8×8 diproses menggunakan AI pada modul ESP32‑C6 untuk meningkatkan resolusi menjadi 32×32, memungkinkan deteksi suhu tubuh korban secara akurat meski dalam debu tebal.
Data yang diperoleh ditransmisikan secara real‑time melalui Wi‑Fi 2.4 GHz ke tim SAR di luar area bencana, sehingga operator dapat melihat peta panas (heat map) dan mengidentifikasi lokasi korban pada layar monitor.
Untuk mengendalikan pergerakan kecoak, tim menggunakan metode stimulasi listrik (Electrical Stimulation‑Based Navigation). Pulsa gelombang kotak dengan tegangan 3 V dan duty cycle 50 % dikirimkan ke antena kecoak, memungkinkan navigasi yang lebih terarah tanpa mengandalkan kontrol manual terus‑menerus.
Saat ini, mahasiswa sedang menyempurnakan ukuran komponen hardware, mengintegrasikan kecerdasan buatan pada sistem navigasi, serta memperluas jangkauan transmisi di medan yang terhalang beton tebal, dengan tujuan menjadikan kecoak dapat bergerak secara otonom dan lebih tahan lelah saat membawa beban sensor.