bytedaily
Kamis, 22 Oktober 2026 - 06:38 WIB

Menteri Pemuda dan Olahraga Minta PB IPSI Hindari Dualisme Kepengurusan

Redaksi 05 September 2026 8 views
Menteri Pemuda dan Olahraga Minta PB IPSI Hindari Dualisme Kepengurusan
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Erick Thohir, menekankan pentingnya menghindari dualisme dalam kepengurusan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

Pesan ini disampaikan Erick saat pelantikan dan pengukuhan pengurus PB IPSI periode 2026-2030 di Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta, pada Sabtu (5/9). Ia menyoroti maraknya dualisme kepengurusan di berbagai cabang olahraga dan dampaknya terhadap masa depan olahraga tersebut, seraya menekankan bahwa persatuan harus dijunjung tinggi oleh PB IPSI.

Erick Thohir juga mengingatkan bahwa PB IPSI masih memiliki perjalanan panjang untuk menorehkan prestasi di kancah global. Ia menyoroti perlunya penyesuaian terhadap regulasi internasional, termasuk standar Badan Antidoping Dunia (WADA), serta pentingnya keberadaan federasi di berbagai negara dan penyelenggaraan turnamen tingkat benua.

Menurutnya, pengakuan dunia internasional mensyaratkan penyesuaian regulasi global dan WADA. Ia menambahkan bahwa pencapaian federasi di minimal 75 negara menjadi target, dan meskipun pencak silat telah hadir di 83 negara, perlu dipastikan keberadaannya di setidaknya empat benua.

Melalui Kemenpora, Erick menyatakan kesiapan untuk mendukung program PB IPSI dalam memperluas jangkauan internasional, termasuk mewujudkan kompetisi tingkat kontinental secara rutin. Ia berharap turnamen tersebut dapat mulai berjalan kembali pada tahun mendatang.

Erick Thohir menegaskan bahwa Kemenpora senantiasa mendukung pencak silat agar dilirik dunia, karena dianggap mencerminkan identitas bangsa. Ia juga berpendapat bahwa stigma bahwa olahraga memakan biaya harus dihilangkan, karena olahraga sejatinya merupakan bentuk investasi.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.