bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, fenomena meratanya kekuatan bulu tangkis dunia telah menjadi sorotan sejak akhir dekade 2000-an hingga saat ini. Negara-negara yang sebelumnya tidak dianggap sebagai kekuatan utama, kini mampu bersaing dan bahkan meraih gelar juara. Jepang dan India kembali menunjukkan taringnya, sementara munculnya pemain-pemain sensasional seperti Carolina Marin dari Spanyol dan Tai Tzu Ying dari Taiwan menjadi bukti nyata perubahan peta persaingan.
Namun, di tengah meratanya kekuatan bulu tangkis global ini, Indonesia justru kerap mengalami kesulitan dan kegagalan. Berbeda dengan China yang seolah tidak terpengaruh oleh dinamika ini dan terus menerus menghasilkan juara di berbagai ajang bergengsi seperti Kejuaraan Dunia dan Olimpiade, Indonesia justru melanjutkan tren puasa gelar di Kejuaraan Dunia.
Terakhir kali Indonesia meraih gelar juara dunia adalah pada tahun 2019 melalui ganda putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan. Rentang waktu ini menjadi periode terlama Indonesia tanpa gelar juara dunia sejak puasa gelar selama 10 tahun pada era 1980-an hingga awal 1990-an. Jika pada masa lalu Kejuaraan Dunia diselenggarakan dua tahun sekali, kini ajang tersebut berlangsung setiap tahun (kecuali tahun Olimpiade). Hal ini berarti Indonesia telah melewatkan lima edisi Kejuaraan Dunia tanpa gelar, dengan empat di antaranya (2022, 2023, 2025, dan 2026) tidak memiliki wakil Indonesia di podium tertinggi, terlepas dari keputusan PBSI tidak mengirimkan atlet pada edisi 2021.
Yang lebih memprihatinkan, kegagalan Indonesia bukan semata-mata karena kalah di babak krusial seperti semifinal atau final. Masalah mendasar yang dihadapi adalah minimnya jumlah wakil yang memiliki potensi kuat untuk meraih gelar. Sebelum Kejuaraan Dunia dimulai, hanya ada dua pasangan ganda putra, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, dan satu tunggal putra, Jonatan Christie, yang masuk dalam kategori unggulan papan atas. Pasangan ganda campuran Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah menjadi satu-satunya wakil yang mampu menembus semifinal, namun akhirnya terhenti, sehingga Indonesia dipastikan tidak memiliki wakil di final dan kembali melanjutkan puasa gelar.