bytedaily
Minggu, 05 Juli 2026 - 19:33 WIB

Perang Iran Ubah Strategi Energi Hijau Tiongkok Menjadi Lebih Tahan Banting

Redaksi 08 Juni 2026 10 views
Perang Iran Ubah Strategi Energi Hijau Tiongkok Menjadi Lebih Tahan Banting
Ilustrasi visual (Sumber referensi: jpost.com)

bytedaily - Melansir laporan dari jpost.com, strategi energi hijau Tiongkok kini memiliki dimensi baru yang lebih strategis, yaitu ketahanan operasional. Perang di Iran, khususnya ketika Teheran menggunakan Selat Hormuz sebagai senjata strategis, telah menyoroti kerentanan Tiongkok terhadap ketergantungan impor energi.

Sebelumnya, dorongan Tiongkok untuk energi hijau lebih banyak dilihat dari dua sisi: transformasi ekonomi melalui dominasi teknologi masa depan dan perbaikan lingkungan dengan mengurangi emisi. Namun, ancaman terhadap Selat Hormuz memperjelas bahwa keamanan energi juga merupakan isu keamanan nasional yang krusial.

Ketergantungan Tiongkok yang signifikan pada minyak dan gas alam impor telah lama diakui sebagai kerentanan keamanan nasional. Pengalaman Iran yang mengancam Selat Hormuz memperkuat kekhawatiran bahwa jalur maritim yang sempit dapat dieksploitasi, bahkan oleh negara sebesar Tiongkok, yang dikendalikan oleh mitra strategis yang lokasinya ribuan mil jauhnya.

Oleh karena itu, strategi energi hijau Tiongkok ke depan tidak hanya akan dilihat sebagai kebijakan iklim dan kebijakan industri, tetapi juga sebagai lindung nilai terhadap guncangan geopolitik. Setiap kendaraan listrik di jalan, peningkatan produksi energi terbarukan, perbaikan penyimpanan energi, fleksibilitas jaringan, dan transportasi yang dialiri listrik akan mengurangi kerentanan terhadap gangguan pasokan minyak impor.

Meskipun langkah ini tidak serta merta melepaskan Tiongkok dari hidrokarbon dalam jangka pendek hingga menengah, hal ini memberikan Beijing ruang manuver yang lebih besar dalam menghadapi krisis. Berbeda dengan Tiongkok, negara seperti India, Jepang, dan Korea Selatan memiliki bantalan strategis yang lebih sedikit dalam menghadapi guncangan serupa di Selat Hormuz, meskipun mereka juga terpapar pada gangguan aliran energi Teluk.

Setelah mengalami krisis energi pada tahun 2021 dan pemadaman listrik bergilir pada tahun 2022, Tiongkok semakin mengintensifkan upayanya untuk membangun berbagai opsi energi. Negara ini telah bertahun-tahun membangun arsitektur ketahanan energi yang lebih luas, termasuk cadangan minyak yang sangat besar, perluasan kapasitas penyimpanan, peningkatan produksi minyak mentah domestik, pasokan batu bara yang memadai, penetapan harga bahan bakar oleh negara, dan peningkatan skala elektrifikasi yang jauh lebih canggih.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media jpost.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.