bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengungkapkan bahwa Infranexia, anak usaha yang bergerak di bidang pengelolaan infrastruktur telekomunikasi dan penyedia jaringan serat optik, tidak akan melakukan Initial Public Offering (IPO) dalam waktu dekat. Sebaliknya, Infranexia akan mengutamakan kemitraan dengan mitra strategis. Dian menjelaskan bahwa strategi ini dinilai lebih efektif untuk mendorong kemajuan perusahaan.
Menurut Dian, kolaborasi dengan mitra strategis tidak hanya terbatas pada suntikan dana, tetapi juga mencakup transfer teknologi dan peningkatan tata kelola perusahaan yang diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan Infranexia. Ia menambahkan bahwa kemitraan ini bertujuan agar Infranexia dapat berkembang sebesar Telkomsel, yang saat ini menjadi kontributor utama bagi Telkom.
Dian memandang bisnis fiber memiliki prospek cerah di masa depan seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan konektivitas dan bandwidth. Peningkatan permintaan ini didorong oleh perkembangan teknologi baru seperti edge computing dan kecerdasan buatan (AI) yang memerlukan kapasitas data besar. Selain kapasitas, kebutuhan akan konektivitas yang dilengkapi dengan keamanan, performa, dan keandalan tinggi juga menjadi faktor penting.
Dalam wawancara bersama CNN Business, Dian juga menyoroti pertumbuhan bisnis data center yang pesat, yang dipicu oleh AI. Ia menyebutkan bahwa permintaan data center saat ini jauh melampaui perkiraan beberapa tahun lalu. Untuk mengantisipasi hal ini, Telkom melalui NeutraDC telah memiliki lebih dari 35 fasilitas data center, termasuk di Singapura, dan berencana menggandeng mitra strategis global. Mitra tersebut diharapkan tidak hanya membawa investasi dan teknologi, tetapi juga tenant atau pengguna dari kalangan hyperscalers.
Meskipun demikian, Dian mengakui bahwa bisnis data center membutuhkan investasi besar dengan periode pengembalian yang panjang, serta tantangan terkait kebutuhan energi listrik dalam jumlah besar. Oleh karena itu, Telkom tengah mempertimbangkan penggunaan sumber energi terbarukan atau energi hijau untuk operasional data center guna meminimalkan dampak lingkungan.
Lebih lanjut, Dian menjelaskan bahwa Telkom sedang bertransformasi menuju model strategic holding yang akan membedakan peran antara holding dan operating company secara lebih jelas. Saat ini, Telkom masih menerapkan model hybrid di mana holding ikut terlibat dalam operasional bisnis bersama anak usahanya. Setelah transformasi menjadi strategic holding, peran holding akan murni bersifat strategis.