bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi bahwa wilayah yang kini dikenal sebagai Cekungan Bandung dulunya merupakan sebuah danau purba. Keberadaan danau purba ini memiliki implikasi penting terkait potensi bencana likuefaksi ketika gempa besar melanda kawasan Bandung Raya.
Menurut peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Edi Hidayat, endapan yang ditinggalkan oleh Danau Bandung purba menjadi faktor krusial yang perlu dicermati. Karakteristik material endapan ini berpotensi memperkuat efek guncangan saat terjadi gempa.
BRIN telah melakukan penelitian geologi melalui pengeboran untuk menemukan endapan danau dan rawa sebagai bukti keberadaan Danau Purba Bandung. Endapan tersebut terbentuk melalui proses geologi selama puluhan ribu tahun.
Edi menjelaskan bahwa pembentukan Danau Bandung Purba berkaitan dengan aktivitas vulkanik Gunung Sunda. Letusan gunung tersebut menghasilkan material vulkanik yang membendung aliran Sungai Citarum purba, menyebabkan air menggenangi Cekungan Bandung dan membentuk danau. Perkiraan waktu terbentuknya danau ini adalah sekitar 90 ribu tahun lalu hingga sekitar 16 ribu tahun lalu.
Proses pengeringan danau terjadi ketika air menemukan jalur keluar melalui erosi batuan pada jalur rekahan di kawasan yang kini dikenal sebagai Curug Jompong. Seiring waktu dan faktor alam lainnya, genangan air menyusut hingga terbentuk bentang Cekungan Bandung seperti saat ini. Namun, material endapan yang mengendap selama ribuan tahun di dasar danau sebagian besar masih tersisa.
Edi menekankan pentingnya pemahaman ini dalam konteks kebencanaan. Hasil pengeboran menunjukkan adanya endapan rawa yang kaya material organik, lapisan lempung, endapan vulkanik, serta lapisan pasir. Sebagian endapan ini belum mengalami proses litifikasi, konsolidasi, dan pemadatan sempurna, sehingga kondisinya lebih lunak dibandingkan batuan keras di sekeliling cekungan.
Karakteristik endapan yang lunak ini berpotensi menimbulkan amplifikasi atau penguatan guncangan gempa pada lapisan tanah tertentu ketika Cekungan Bandung menerima gelombang gempa. Edi mengibaratkan kondisi ini seperti material lunak di dalam wadah yang akan ikut bergerak lebih kuat ketika wadah diguncang.
Perbedaan karakter antara batuan keras yang mengisi dasar dan sekeliling cekungan dengan batuan yang lebih muda dan relatif lunak di bagian tengah cekungan dapat menyebabkan efek amplifikasi yang berbahaya bagi Kota Bandung jika terjadi gempa. Hal ini menjadi relevan mengingat Bandung berdekatan dengan sejumlah sumber gempa bumi darat, termasuk Sesar Lembang.