bytedaily - Dilansir dari jalopnik.com, mobil hybrid yang kehabisan daya baterai tegangan tinggi (high-voltage battery) tidak serta-merta menjadi tidak berguna, namun situasinya menjadi rumit dan berpotensi mahal.
Dalam mobil hybrid, baterai tegangan tinggi dan mesin pembakaran internal bekerja secara saling bergantung. Biasanya, baterai ini terus terisi daya saat mobil berjalan melalui mesin dan pengereman regeneratif. Namun, jika baterai habis atau gagal, mobil akan masuk ke mode darurat (limp mode). Unit kontrol mesin (ECU) akan membatasi daya dan kecepatan untuk melindungi komponen kelistrikan sensitif dari kerusakan lebih lanjut.
Situasi sedikit berbeda pada Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). Meskipun diharapkan beralih ke mode bensin saja, sebagian besar hybrid, termasuk PHEV, menggunakan motor generator untuk menyalakan mesin bensin. Motor generator ini, bukan baterai 12V seperti pada hybrid kecil, ditenagai oleh paket baterai tegangan tinggi. Oleh karena itu, jika baterai tegangan tinggi habis, mobil tidak dapat dinyalakan kembali.
Baterai 12V yang menggerakkan sistem infotainment dan lampu memang masih ada. Namun, pada hybrid, baterai utama tegangan tinggi dan baterai tambahan 12V saling terhubung. Baterai 12V membutuhkan baterai tegangan tinggi untuk tetap terisi daya melalui konverter DC-DC. Ketika baterai tegangan tinggi mati, baterai 12V tidak dapat diisi ulang. Setelah daya baterai 12V habis, aksesori mobil akan mati, kemudi menjadi berat, bantuan pengereman hilang, dan panel instrumen menjadi gelap, mengubah situasi dari ketidaknyamanan menjadi bahaya keselamatan serius.
Secara teori, mobil hybrid seharusnya bisa berjalan hanya dengan mesin pembakaran internal selama baterai 12V masih memiliki daya. Namun, beberapa hybrid tidak akan menyala atau bergerak lambat karena membutuhkan motor listrik untuk akselerasi awal. Jika baterai tidak dapat memberikan daya yang cukup, mobil tidak akan berjalan. Alasan lain adalah pada mobil seperti Toyota Prius, mesin bensin dan motor listrik terhubung melalui eCVT. Komputer mobil menggunakan motor listrik untuk mengatur rasio gigi dan torsi. Tanpa listrik, motor tidak dapat berfungsi, dan transmisi tidak dapat mengirimkan tenaga ke roda.
Jika mobil hybrid yang baterainya habis berhasil diderek ke bengkel, perbaikan baterai tegangan tinggi bisa menjadi masalah finansial yang signifikan.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi jalopnik.com.