bytedaily - Melansir laporan dari military.com, Amerika Serikat tengah mempersiapkan sistem pertahanan canggih untuk menghadapi ancaman drone selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi dan menetralisir drone yang berpotensi membahayakan keamanan acara berskala internasional tersebut.
Cordell Bennigson, seorang mantan Mayor Marinir AS yang kini menjabat sebagai CEO R2 Wireless – U.S., menjelaskan dalam wawancara eksklusif bahwa solusi yang dikembangkan bersifat hemat biaya, mudah diimplementasikan, dan dapat diterapkan secara luas di berbagai lokasi venue pertandingan.
Ancaman drone yang sebelumnya dominan di medan perang seperti di Ukraina dan Timur Tengah, kini menjadi perhatian serius bagi keamanan di stadion dan pusat kota yang menjadi tuan rumah acara global. Bennigson menekankan bahwa sistem deteksi pasif yang hemat biaya menjadi kunci utama dalam menutup celah keamanan ini.
Menurut Bennigson, teknologi modern telah mengaburkan batas antara zona tempur dan keamanan domestik. Seorang operator tunggal dengan drone dapat menimbulkan kekacauan dan kerusakan yang signifikan tanpa terhalang oleh medan atau jarak. Perkembangan teknologi pertahanan yang terlihat di berbagai negara tersebut kini relevan untuk diterapkan di arena sipil.
R2 Wireless mengembangkan Odin, sebuah jaringan deteksi frekuensi radio pasif yang selalu aktif dan berbiaya rendah. Sensor-sensor ini memantau spektrum luas untuk mendeteksi perangkat yang memancarkan sinyal, seperti drone, pengendali, atau pemancar lainnya. Data lokasi dan sinyal kemudian diumpankan ke sistem keamanan yang ada untuk respons cepat.