bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, kawasan Asia Pasifik kini berada di momentum krusial dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI). Potensi besar dimiliki untuk mempercepat adopsi AI, seiring perusahaan mulai mengintegrasikan teknologi ini tidak hanya untuk fungsi dasar, tetapi juga dalam operasional bisnis yang lebih luas.
Peningkatan pemanfaatan AI ini memerlukan lebih dari sekadar adopsi teknologi baru. Perusahaan dituntut untuk melakukan redefinisi terhadap proses kerja, mekanisme pengambilan keputusan, serta infrastruktur pendukung implementasi AI dalam skala besar.
Menurut Senior Vice President and Chair IBM Europe, Middle East, Africa and APAC, Ana Paula Assis, mayoritas perusahaan belum mencapai tahap penerapan AI berskala masif. Ia menyatakan bahwa banyak organisasi masih pada tahap awal, memanfaatkan AI untuk tugas-tugas seperti pembuatan dokumen, perangkuman rapat, dan otomatisasi tugas individual. Meskipun bernilai, penggunaan ini masih terbatas.
Ana Paula Assis menambahkan bahwa persoalan ini bukan hanya terkait teknologi, melainkan juga aspek operasional yang membutuhkan model operasional AI yang benar-benar baru.
General Manager IBM Asia Pacific, Hans Dekkers, menilai bahwa kompleksitas karakteristik Asia Pasifik justru dapat menjadi keunggulan kawasan tersebut. Dengan menjadikan kompleksitas ini sebagai aset strategis dan merancang AI yang berorientasi pada kedaulatan data sejak awal, organisasi di kawasan ini berpotensi menjadi rujukan global dalam tata kelola dan penerapan AI yang terpercaya secara luas.
Sebuah studi dari IBM mencatat bahwa 79 persen eksekutif global memproyeksikan AI akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan perusahaan pada tahun 2030. Sekitar 80 persen eksekutif juga dilaporkan meningkatkan investasi pada AI agentik, yaitu sistem yang mampu menjalankan berbagai tugas dan mengambil tindakan secara mandiri.
Proyeksi belanja perusahaan untuk agen AI diperkirakan akan meningkat hampir tiga kali lipat pada tahun 2027. Namun, ekspansi ini juga memunculkan tantangan baru terkait kontrol atas agen AI, data yang digunakan, lokasi penyimpanan informasi, serta akuntabilitas ketika sistem menghasilkan keputusan yang keliru. Sebanyak 68 persen eksekutif bahkan mengidentifikasi lokasi penyimpanan dan kedaulatan data sebagai tantangan utama. Bagi negara-negara Asia Pasifik, isu ini menjadi semakin krusial mengingat data perusahaan dapat tunduk pada yurisdiksi hukum yang berbeda dari lokasi operasionalnya.
Dekkers menekankan bahwa kesuksesan perusahaan pada tahun 2030 akan bergantung pada kemampuan membangun fondasi AI yang kokoh. Fondasi ini mencakup ketersediaan data yang siap pakai, AI yang dapat dipercaya, serta infrastruktur digital yang terbuka dan hybrid, yang tetap memberikan kemandirian operasional bagi organisasi.
IBM juga dilaporkan telah memperkenalkan berbagai teknologi untuk mendukung transformasi ini. Penerapan AI mulai merambah sektor berisiko tinggi, seperti di Changi General Hospital, Singapura, yang mengintegrasikan AI, mixed reality, dan keahlian klinis untuk melatih tenaga kesehatan dalam menghadapi skenario insiden korban massal anak. Sistem ini berfungsi untuk menganalisis skenario, memantau kinerja tim, dan menghasilkan evaluasi yang lebih objektif.
Di sektor pertahanan, institusi di Singapura juga tengah menjajaki potensi komputasi kuantum untuk mengatasi masalah perencanaan misi yang kompleks, meskipun teknologi ini belum matang untuk adopsi luas.
Keberhasilan Asia Pasifik dalam memimpin pengembangan AI akan sangat bergantung pada kemampuannya mengubah kompleksitas regional menjadi sistem AI yang terpercaya, terkendali, dan dapat diterapkan dalam skala besar.