bytedaily
Selasa, 18 Agustus 2026 - 07:19 WIB

Badan Gizi Nasional Tegaskan Tutup Dapur Gizi yang Tak Penuhi Standar

Redaksi 18 Agustus 2026 3 views
Badan Gizi Nasional Tegaskan Tutup Dapur Gizi yang Tak Penuhi Standar
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyatakan akan melakukan penutupan permanen terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak memenuhi standar operasional yang telah ditetapkan. Keputusan ini diambil tanpa memandang siapa pemilik atau pengelola dapur tersebut.

Pernyataan tegas ini disampaikan Sudaryono sebagai respons terhadap hasil evaluasi BGN pasca insiden dugaan keracunan makanan yang menimpa sejumlah siswa SMAN 1 Berastagi di Kabupaten Karo, Sumatra Utara. "Saya tidak peduli itu SPPG-nya misalnya apa, punya siapa, saya tidak lihat. Saya lihat sistem. Manakala tidak memenuhi standar di sistem saya, maka dengan berat hati harus saya tutup permanen," ujar Sudaryono di Jakarta Pusat, Senin (17/8).

Sudaryono menjelaskan bahwa kebijakan penutupan berlaku bagi semua SPPG yang gagal memenuhi standar operasional BGN. Dapur yang tidak dapat diperbaiki akan ditutup secara permanen. Ia mengungkapkan bahwa BGN telah menutup sekitar 1.300 SPPG dalam tiga minggu terakhir masa jabatannya, dengan rincian 800 SPPG sudah ditutup dan 500 lainnya menyusul.

Selain penutupan dapur yang tidak memenuhi standar, BGN juga tengah mengevaluasi ulang prosedur pemeriksaan makanan. Sudaryono menyadari bahwa pemeriksaan secara organoleptik, seperti melihat bau dan mencicipi, belum tentu dapat mendeteksi potensi masalah yang menyebabkan keracunan. "Jadi, bahwa keracunan ini bukan hanya misalnya dicek organoleptik tadi dibau, dirasa, dicicipi, ya. Sudah dibau enggak ada masalah, dicicipi juga enggak ada persoalan, akhirnya dikonsumsi," jelasnya.

Untuk mengatasi hal ini, BGN sedang mempertimbangkan penggunaan alat tes kit di setiap dapur SPPG. Alat ini akan digunakan bersama bahan kimia tertentu untuk memeriksa kemungkinan adanya zat berbahaya atau kondisi makanan yang tidak layak. BGN juga tengah mempelajari penerapan tes kit dari beberapa SPPG yang telah menggunakannya, termasuk yang dikelola oleh Bhayangkari dari Polri.

Sebelumnya, BGN telah mencopot kepala SPPG yang terkait dengan insiden dugaan keracunan di SMAN 1 Berastagi dan menyegel dapur operasionalnya sebagai langkah administratif. BGN juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Karo dan Dinas Kesehatan setempat untuk memeriksa sampel sisa lauk-pauk guna mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.

Sudaryono mengingatkan bahwa satu kasus insiden tidak dapat dijadikan gambaran umum bahwa seluruh dapur SPPG bermasalah. Ia menyebutkan bahwa dari total 27 ribu dapur, sebagian besar beroperasi dengan baik, dan BGN berupaya terus meningkatkan kualitas yang sudah baik serta mengevaluasi yang belum memenuhi standar.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.