bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mendorong penerapan bahan bakar dengan campuran etanol 50 persen atau E50. Program itu diharapkan membantu Indonesia menghentikan impor Pertalite dan Pertamax dalam lima tahun ke depan.
Bahlil menyebut penerapan E50 akan dilakukan bertahap, dimulai dari campuran E10 dan E20 sebelum mencapai E50. Bahan bakunya direncanakan berasal dari komoditas lokal, seperti singkong, jagung, dan tebu.
Menurut Bahlil, ketersediaan lahan di Indonesia masih memadai untuk menanam bahan baku etanol. Ia berharap program tersebut dapat berjalan seperti B50, yakni campuran biodiesel berbasis minyak kelapa sawit mentah untuk bahan bakar solar.
Saat meresmikan Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Bahlil juga meminta pemerintah daerah mengarahkan lahan tidur untuk menanam komoditas bahan baku etanol. Ia menyatakan Pertamina akan menjadi pembeli atau offtaker seluruh etanol yang diproduksi, seiring rencana penerapan kewajiban penggunaan bahan bakar tersebut.