bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengapresiasi sejumlah pencapaian pemerintah Presiden Prabowo Subianto yang dipaparkan dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI. Menurut Bamsoet, pidato kenegaraan tersebut menunjukkan prioritas pembangunan yang berfokus pada kemandirian nasional, kesejahteraan rakyat, ketahanan pangan dan energi, penguatan ekonomi, serta efisiensi tata kelola negara.
Presiden dalam pidatonya menyampaikan pertumbuhan ekonomi semester I 2026 sebesar 5,45 persen. Selain itu, realisasi investasi hingga semester I 2026 mencapai Rp 1.010 triliun, yang berhasil menciptakan lebih dari 1,4 juta lapangan kerja. Angka investasi sepanjang tahun 2025 tercatat sebesar Rp 1.931 triliun, dengan penyerapan lebih dari 2,7 juta tenaga kerja.
Bamsoet menilai bahwa angka-angka tersebut perlu diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya beli, penguatan kelas menengah, dan pemerataan pembangunan.
Salah satu capaian yang disorot oleh Bamsoet adalah keberhasilan Indonesia dalam mencapai swasembada delapan komoditas pangan dalam kurun waktu satu tahun. Pemerintah juga dilaporkan telah memangkas 145 regulasi terkait penyaluran pupuk dan menurunkan harganya sekitar 20 persen. Kebijakan ini dianggap penting untuk menekan biaya produksi petani.
Meskipun demikian, Bamsoet mengingatkan bahwa masih ada pekerjaan rumah untuk komoditas pangan yang belum sepenuhnya mandiri. Ia menekankan pentingnya melanjutkan upaya swasembada dengan peningkatan produktivitas, kepastian harga hasil panen yang menguntungkan petani, penguatan sistem irigasi, mekanisasi pertanian, serta regenerasi petani.
Menurut Bamsoet, swasembada pangan merupakan fondasi kedaulatan negara yang krusial dalam menghadapi gejolak ekonomi global. Ia juga mengingatkan agar pemerintah memastikan harga hasil panen tetap menguntungkan petani, menghindari kerugian akibat tingginya biaya distribusi, permainan tengkulak, atau lemahnya rantai pasok.
Terkait pertumbuhan ekonomi, angka 5,45 persen pada semester I 2026 dianggap memberikan sinyal positif bahwa perekonomian Indonesia mampu bertahan di tengah ketidakpastian global. Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen bahkan disebut sebagai yang tertinggi dalam 13 tahun terakhir untuk periode kuartal pertama dan semester pertama.