bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa fenomena El Nino yang kuat saat ini menjadi penyebab utama kemarau ekstrem di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi ini juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurut Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jatim, Linda Fitrotul, El Nino dikategorikan kuat karena anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik timur (Nino 3.4) tercatat di atas +2 derajat Celcius. Fenomena ini berpotensi mengurangi curah hujan dan membuat musim kemarau menjadi lebih kering, yang ditandai dengan memanjangnya periode tanpa hujan.
Dampak lanjutan dari kondisi ini, lanjut Linda, meliputi potensi kekeringan yang meningkat, berkurangnya ketersediaan air untuk sektor pertanian dan kebutuhan masyarakat, serta peningkatan risiko karhutla. Ia juga menjelaskan bahwa anomali suhu muka laut di Samudera Hindia bagian barat dan timur, yang diindikasikan oleh indeks Indian Ocean Dipole (IOD) pada rentang positif 0,63, turut berkontribusi pada El Nino kuat. Indeks IOD positif ini mengindikasikan pergerakan air dari Indonesia bagian barat menuju pesisir timur Afrika.
Kombinasi kedua kondisi tersebut menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering dari biasanya. Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago juga telah mengungkapkan bahwa El Nino kuat mempercepat proses karhutla yang terjadi belakangan ini dan diperkirakan berlangsung hingga awal Oktober, sehingga mempercepat perambatan api.
Data pemerintah mencatat bahwa hingga awal Agustus 2026, lebih dari 107 ribu hektare lahan telah terdampak karhutla di Indonesia. Guru Besar Kehutanan IPB University, Bambang Hero Sajarjo, menambahkan bahwa El Nino memang menjadi salah satu pemicu karhutla, meskipun bukan satu-satunya faktor utama. Menurutnya, El Nino mempercepat pengeringan biomassa, menjadikan bahan bakar di permukaan lebih mudah terbakar dan api lebih cepat meluas. Ia menekankan pentingnya pengendalian kebakaran hutan tetap dilakukan terlepas dari ada atau tidaknya El Nino, mengingat dampak buruknya bagi manusia dan lingkungan.