bytedaily
Senin, 17 Agustus 2026 - 11:58 WIB

BMKG: Gempa Flores Berpotensi Susulan Hingga 3 Pekan Akibat Sesar Naik

Redaksi 16 Agustus 2026 5 views
BMKG: Gempa Flores Berpotensi Susulan Hingga 3 Pekan Akibat Sesar Naik
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi gempa susulan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih akan terjadi selama dua hingga tiga minggu ke depan hingga aktivitasnya mereda secara alami. Perkiraan ini didasarkan pada pola peluruhan alami yang biasanya terjadi setelah gempa besar.

Hingga Sabtu (15/8) pukul 14.00 WIB, BMKG telah mencatat sebanyak 235 gempa susulan yang terjadi di sebelah utara Pulau Flores, dengan magnitudo bervariasi antara M2,5 hingga M6,2. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa tren gempa susulan belum menunjukkan tanda-tanda mereda, dan proses stabilisasi sesar membutuhkan waktu.

Gempa utama dengan magnitudo M7,7 yang berpusat di kedalaman 15 kilometer merupakan gempa dangkal. Menurut BMKG, gempa ini dipicu oleh aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust, yang diketahui memiliki sejarah gempa merusak di masa lalu. Salah satu contohnya adalah gempa M7,8 pada tahun 1992.

Kedalaman pusat gempa yang dangkal pada gempa kali ini berkontribusi pada tingkat kerusakan fisik yang cukup berat pada bangunan dan infrastruktur. Selain itu, gempa ini juga memicu terjadinya tsunami yang terdeteksi hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Ketinggian puncak tsunami yang tercatat di Reo Manggarai dan Manggarai Timur mencapai 1,61 meter, sementara di Maurole, Ende, ketinggiannya 0,94 meter, dan di Bulukumba serta Sape, Bima, melampaui 0,5 meter.

BMKG telah mengakhiri seluruh peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi muka laut telah kembali aman.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.