bytedaily
Jumat, 03 Juli 2026 - 19:55 WIB

BMKG: Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering dan Panjang

Redaksi 19 Juni 2026 11 views
BMKG: Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering dan Panjang
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bahwa musim kemarau tahun 2026 di Indonesia akan mengalami kondisi yang lebih kering dan berlangsung lebih lama dari biasanya.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyatakan bahwa fenomena El Nino diprediksi akan berlanjut hingga awal tahun 2027. El Nino ini diperkirakan memiliki peluang intensitas moderat sebesar 98 persen dan kuat sebesar 62 persen, yang dampaknya terhadap Indonesia akan terasa selama periode musim kemarau hingga pertengahan Oktober.

Menurut prakiraan BMKG, durasi musim kemarau tahun ini diperkirakan berkisar antara tiga hingga tujuh bulan, tergantung pada masing-masing wilayah. Ardhasena menjelaskan bahwa musim kemarau berpotensi lebih panjang di 437 Zona Musim (ZOM) yang mencakup 48,77 persen luas daratan Indonesia. Sementara itu, 70 ZOM (8,32 persen luas daratan) diprediksi memiliki durasi kemarau yang sama dengan normal, dan 79 ZOM (9,23 persen luas daratan) diperkirakan akan mengalami musim kemarau yang lebih pendek.

Beberapa wilayah Indonesia dilaporkan telah memasuki musim kemarau sejak bulan Mei. Pada bulan Juni, sebanyak 198 ZOM atau setara dengan 31,60 persen luas daratan diprediksi mengalami kemarau. Wilayah-wilayah ini meliputi sebagian besar Sumatra, Kalimantan Barat, sebagian Banten, Jakarta bagian selatan, Jawa Tengah bagian tengah dan barat, sebagian kecil Jawa Timur, Kalimantan Barat bagian selatan, sebagian besar Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan bagian tengah, sebagian besar Kalimantan Timur, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat, dan Papua bagian timur.

Selanjutnya, pada bulan Juli, sebanyak 66 ZOM atau 7,28 persen wilayah Indonesia diperkirakan akan memasuki musim kemarau. Wilayah tersebut mencakup Jambi bagian barat, sebagian Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, dan sebagian Maluku.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengumumkan bahwa puncak musim kemarau pada bulan Juli akan melanda 83 Zona Musim (ZOM) atau 12,26 persen luas daratan Indonesia. Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan mencapai puncak kemarau pada bulan Agustus, yang mencakup 369 ZOM atau 48,84 persen luas daratan. Sementara itu, 169 ZOM atau 25,41 persen luas daratan lainnya baru akan mengalami puncak kemarau pada bulan September.

Wilayah yang diperkirakan mengalami puncak kemarau pada Juli 2026 antara lain sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian tengah, dan Papua bagian timur. Pada bulan Agustus, puncak musim kemarau akan terjadi di Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta sebagian besar Pulau Papua. Memasuki bulan September, wilayah yang akan mengalami puncak kemarau meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Pegunungan bagian tengah.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.