bytedaily
Sabtu, 04 Juli 2026 - 04:11 WIB

BMKG Prediksi Puncak Kemarau 2026 di Sejumlah Wilayah Terjadi Sejak Juli

Redaksi 11 Juni 2026 10 views
BMKG Prediksi Puncak Kemarau 2026 di Sejumlah Wilayah Terjadi Sejak Juli
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan mencapai puncak musim kemarau pada bulan Agustus 2026. Namun, terdapat sejumlah daerah yang diperkirakan akan memasuki puncak kemarau lebih awal, yaitu pada bulan Juli 2026.

Menurut data BMKG, sebanyak 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26 persen dari total daratan Indonesia diprediksi akan mengalami puncak kemarau pada Juli 2026. Wilayah-wilayah tersebut mencakup sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, selatan Nusa Tenggara Timur, utara Sulawesi Barat, barat Sulawesi Tengah, sebagian kecil Maluku, selatan Papua Barat Daya, tengah Papua Barat, dan timur Papua.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa mayoritas wilayah Indonesia, yang meliputi 369 ZOM atau 48,84 persen luas daratan, diproyeksikan mengalami puncak kemarau pada Agustus 2026. Daerah yang diperkirakan terdampak pada bulan ini antara lain Sumatera bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, selatan Maluku Utara, dan sebagian besar Pulau Papua.

Selain itu, sebanyak 169 ZOM atau 25,41 persen daratan Indonesia diprediksi baru akan mencapai puncak kemarau pada September 2026. Wilayah ini mencakup Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatera Selatan, Lampung, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, dan bagian tengah Papua Pegunungan.

Hingga akhir Mei 2026, BMKG mencatat bahwa 200 ZOM atau 11,83 persen daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau. Angka ini diperkirakan akan meningkat signifikan dengan masuknya 198 ZOM lainnya pada Juni 2026.

Perubahan prediksi ini didasarkan pada pembaruan data anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik yang telah melewati ambang netral selama lima dasarian berturut-turut, dengan nilai anomali pada Mei 2026 tercatat sebesar +1,0. Kondisi ini mengindikasikan kemungkinan aktifnya fenomena El Niño yang diperkirakan akan bertahan hingga awal 2027.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyatakan bahwa peluang El Niño mencapai intensitas moderat sebesar 98 persen, sementara peluang kategori kuat sebesar 62 persen. BMKG memprediksi kemarau 2026 secara umum akan lebih kering dari biasanya, dengan 482 ZOM atau 56,18 persen daratan diprediksi mengalami sifat musim kemarau di bawah normal.

Durasi kemarau juga diprediksi lebih panjang dari normal pada 437 ZOM yang mencakup 48,77 persen daratan, meliputi wilayah Sumatera bagian utara dan selatan, sebagian besar Jawa, Bali, NTB, sebagian besar Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, dan sebagian Papua. Hanya tujuh ZOM atau 0,68 persen daratan Indonesia yang diprediksi mengalami kemarau lebih basah dari normal, yaitu sebagian kecil Bengkulu, Gorontalo bagian utara dan selatan, serta sebagian kecil NTT.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.