bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, burung nuri dahi biru, spesies yang dianggap sangat langka, telah berhasil kembali ditemukan di Pulau Buru setelah diperkirakan menghilang selama hampir satu abad. Burung endemik yang tidak ditemukan di wilayah lain di dunia ini sempat dikhawatirkan punah sebelum akhirnya terlihat di puncak tertinggi pulau tersebut.
Penemuan kembali spesies ini terjadi pada April 2026 berkat sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh sekelompok pendaki gunung dari Indonesia. Tim ekspedisi tersebut berhasil mengabadikan gambar pertama burung nuri dahi biru dalam kurun waktu 12 tahun terakhir. Selain itu, mereka juga merekam suara kicauan bernada tinggi yang diyakini digunakan burung tersebut untuk berkomunikasi di tengah lebatnya kanopi hutan.
Identifikasi burung nuri dahi biru ini didasarkan pada ciri fisik yang mencakup tubuh berwarna hijau cerah, paruh berwarna oranye, bagian belakang kepala berwarna biru, serta ekor yang runcing. Keberhasilan penemuan ini mengkonfirmasi dugaan sebelumnya bahwa burung tersebut cenderung mendiami dataran yang lebih tinggi, berbeda dari lokasi pencarian sebelumnya yang kurang terjangkau.
Menurut John Mittermeier, Direktur Search for Lost Birds di American Bird Conservancy, medan dataran tinggi tempat burung ini ditemukan sebelumnya sulit diakses. Namun, pendaki lokal berhasil memetakan jalur menuju pegunungan tersebut, membuka akses untuk penemuan ini. Mittermeier menambahkan bahwa tim ekspedisi menghadapi medan yang berat seperti tanjakan kapur yang curam, tebing, bebatuan tajam, dan minimnya sumber air. Ia menekankan keakuratan penemuan ini karena tidak ada spesies burung lain di pulau itu yang memiliki kemiripan fisik dengan burung nuri dahi biru.
Selama ekspedisi, tim mencatat keberadaan setidaknya sembilan individu burung nuri dahi biru. James Eaton, seorang pengamat burung yang turut serta dalam ekspedisi, menjelaskan bahwa tim harus berjuang melewati kondisi cuaca hujan, batuan kapur yang tajam, arus sungai yang deras, dan ketiadaan jalur pendakian selama seminggu sebelum akhirnya berhasil menemukan burung tersebut.
Spesies ini pertama kali dideskripsikan berdasarkan tujuh spesimen yang dikumpulkan pada era 1920-an. Setelah itu, burung ini tidak tercatat lagi selama hampir 90 tahun meskipun telah dilakukan pencarian ekstensif di hutan dataran rendah dan menengah. Burung ini sempat muncul kembali dalam satu catatan foto pada tahun 2014.
Saat ini, burung nuri dahi biru terdaftar dalam Daftar Merah IUCN dengan status kekurangan data. Spesies ini juga diakui sebagai 'spesies yang hilang' oleh Search for Lost Birds pada tahun 2024. Mittermeier menegaskan perlunya penelitian lebih lanjut untuk menentukan perkiraan populasi dan potensi ancaman terhadap burung ini sebagai langkah awal dalam upaya konservasi.