bytedaily - Dilansir dari jalopnik.com, CEO Lamborghini, Stephan Winkelmann, menyatakan kepuasannya atas keputusan perusahaan untuk membatalkan proyek mobil listrik penuh (EV) Lanzador. Keputusan ini diambil menyusul penerimaan pasar yang buruk terhadap Ferrari Luce, yang merupakan mobil listrik pertama dari pabrikan asal Italia tersebut.
Winkelmann menyebut keputusan Lamborghini untuk beralih ke teknologi plug-in hybrid sebagai langkah yang tepat. Ia mengakui bahwa permintaan untuk kendaraan listrik di kalangan pelanggan Lamborghini belum meningkat secara signifikan, sehingga strategi awal yang berfokus pada mobil listrik penuh dinilai kurang tepat.
"Keputusan kami untuk beralih dari [mesin pembakaran internal tradisional] ke plug-in adalah langkah yang sangat penting bagi kami, dan itu berhasil," ujar Winkelmann dalam sebuah wawancara virtual dengan CNBC. Ia menambahkan bahwa setiap merek dan perusahaan harus membuat keputusan strategisnya sendiri.
Sebelumnya, saham Ferrari dilaporkan mengalami penurunan di bursa Milan dan New York setelah peluncuran model Luce. Analis menyebutkan bahwa reaksi negatif pasar sebagian disebabkan oleh kekecewaan penggemar terhadap Ferrari yang merangkul konsep kendaraan listrik, yang dinilai dapat mengaburkan citra merek supercar yang identik dengan desain klasik dan tenaga mesin pembakaran.
Menanggapi pertanyaan mengenai Ferrari Luce, Winkelmann memilih untuk tidak berkomentar langsung, namun menekankan pentingnya inovasi yang tidak hanya dilakukan demi inovasi itu sendiri atau dipaksakan kepada pelanggan.
Sementara itu, Winkelmann juga mengungkapkan bahwa Lamborghini berencana untuk memfokuskan kembali strateginya pada teknologi plug-in hybrid. Keputusan ini sejalan dengan strategi FaSTLAne 2030 milik Stellantis, yang melibatkan investasi besar untuk modernisasi perangkat lunak kendaraan dan pengembangan teknologi otonom, termasuk kemitraan dengan perusahaan startup di Silicon Valley.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi jalopnik.com.