bytedaily - Dilansir dari jalopnik.com, meskipun American Airlines secara tegas menolak gagasan penggabungan usaha, CEO United Airlines Scott Kirby tetap berupaya menjelaskan manfaat mega merger tersebut bagi pelanggan, masyarakat umum, dan perekonomian Amerika Serikat.
Kirby memusatkan argumennya pada pemberian nilai kepada pelanggan. Ia membayangkan maskapai gabungan akan memiliki pesawat-pesawat terbaru dengan fasilitas canggih yang melayani lebih banyak destinasi, sehingga menjadi pilihan terbaik bagi setiap pelanggan, baik di dalam maupun luar negeri. Hal ini dapat diartikan sebagai sindiran halus terhadap maskapai-maskapai Teluk yang saat ini dianggap sebagai standar industri.
Meskipun armada baru yang besar terdengar menarik, Kirby mengklaim bahwa merger ini tidak akan menaikkan harga tiket bagi pelanggan. Ia menyatakan bahwa harga tiket United pada tahun 2025 diprediksi akan 29% lebih murah dibandingkan sebelum pandemi, setelah disesuaikan dengan inflasi. Namun, dalam pasar yang kompetitif, pengurangan jumlah pesaing biasanya berujung pada kenaikan harga. Sebagai contoh, upaya akuisisi Spirit Airlines oleh JetBlue pada tahun 2023 diperkirakan akan menaikkan harga tiket sebesar 30% hanya dengan menghilangkan Spirit dari pasar.
Salah satu klaim Kirby yang paling tidak biasa adalah bahwa maskapai gabungan United-American akan memiliki lebih banyak karyawan dibandingkan kedua maskapai saat ini. Ia memproyeksikan perusahaan baru akan menciptakan puluhan ribu pekerjaan baru bergaji tinggi, terorganisir dalam serikat pekerja, dan memiliki tunjangan yang baik, di atas 250.000 tenaga kerja yang sudah ada. Strategi merger ini hanya akan mungkin jika setiap pesawat yang ditarik dari rute yang ada dialihkan ke layanan baru. Kirby menegaskan bahwa maskapai itu sendiri akan menjadi pendorong pariwisata, menciptakan miliaran dolar dalam aktivitas ekonomi.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi jalopnik.com.