bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, China telah memperkenalkan LineShine, sebuah superkomputer yang diklaim sebagai yang terkuat di dunia, menggunakan chip yang sepenuhnya dikembangkan di dalam negeri. Keberhasilan ini memperketat persaingan teknologi antara China dan Amerika Serikat.
Superkomputer LineShine berlokasi di Pusat Superkomputer Nasional di Shenzen. Sistem ini berhasil menduduki puncak daftar TOP500, mengungguli El Capitan buatan Amerika Serikat yang sebelumnya memegang gelar tersebut. LineShine dilaporkan memiliki kecepatan komputasi 20 persen lebih tinggi dibandingkan El Capitan.
Superkomputer dirancang untuk menangani perhitungan yang sangat kompleks dan cepat, berbeda dari komputer konvensional. Penggunaannya mencakup pengembangan obat baru, prediksi cuaca, pelatihan model kecerdasan buatan (AI), dan berbagai jenis simulasi.
Menurut Pusat Superkomputer Nasional China, LineShine merupakan hasil terobosan dalam mengatasi berbagai hambatan teknologi inti. Lembaga tersebut menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan lompatan bersejarah bagi sektor superkomputer China dalam mengurangi ketergantungan pada teknologi asing dan membangun ekosistem perangkat keras serta perangkat lunak yang mandiri.
Sistem LineShine beroperasi sepenuhnya menggunakan CPU, tanpa mengandalkan GPU. Lu Yutong, kepala desainer LineShine, menjelaskan bahwa mesin ini mendobrak arsitektur hibrida yang umum digunakan, yang biasanya memadukan CPU dan GPU. Sistem ini mengintegrasikan infrastruktur komputasi full-stack buatan dalam negeri, termasuk CPU dan memori bandwith tinggi (HBM), untuk mendukung beban kerja ilmiah, teknik, dan AI.
Sejak diluncurkan, LineShine telah dimanfaatkan untuk berbagai aplikasi, termasuk pemodelan iklim, simulasi teknik, penemuan obat, ilmu saraf, dan pengembangan AI.
Namun, para ahli mengingatkan agar tidak melihat posisi puncak LineShine di daftar TOP500 sebagai satu-satunya tolok ukur kapabilitas AI suatu negara. Andrew Rohl, direktur National Computational Infrastructure Australia, menyatakan bahwa meskipun LineShine adalah pencapaian teknis yang mengesankan, daftar TOP500 tidak secara langsung mengukur kemampuan AI atau infrastruktur terbaik untuk menjalankan AI.
Rohl menjelaskan bahwa peringkat TOP500 menggunakan tolok ukur yang sudah lama ada, dirancang untuk mengukur beban kerja komputasi ilmiah tradisional, bukan beban kerja AI modern. Selain itu, banyak sistem AI terkemuka yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi besar atau fasilitas pertahanan utama tidak masuk dalam daftar TOP500 karena alasan kerahasiaan atau ekonomi.
Meskipun LineShine berhasil menggusur El Capitan dari posisi teratas, Amerika Serikat masih mendominasi posisi teratas dalam daftar superkomputer terkuat di dunia.