bytedaily
Sabtu, 04 Juli 2026 - 16:46 WIB

CTO OpenAI, Mira Murati, Muncul Kembali di Publik, Ungkap Inovasi AI Baru

Redaksi 05 Juni 2026 4 views
CTO OpenAI, Mira Murati, Muncul Kembali di Publik, Ungkap Inovasi AI Baru
Ilustrasi visual (Sumber: techcrunch.com)

bytedaily - Dilansir dari techcrunch.com, Mira Murati, Chief Technology Officer (CTO) OpenAI, kembali tampil di depan publik setelah sekitar 18 bulan absen dari sorotan media utama. Penampilannya di Bloomberg di San Francisco pada hari Kamis (waktu setempat) menjadi yang pertama sejak ia lebih banyak beroperasi di balik layar sebagai CEO perusahaannya sendiri, Thinking Machines Lab.

Keputusan Murati untuk tampil kembali ini dinilai strategis mengingat Thinking Machines telah menghabiskan waktu satu setengah tahun terakhir untuk fokus pada penggalangan dana, perekrutan peneliti, dan peluncuran produk 'Tinker', sebuah API untuk menyempurnakan model AI sumber terbuka. Dalam periode yang sama, para pesaing seperti OpenAI, Anthropic, dan xAI milik Elon Musk semakin mendominasi pemberitaan dan menarik perhatian investor.

Dalam wawancaranya, Murati memperkenalkan konsep baru yang disebut 'interaction models'. Ia menjelaskan bahwa model ini merupakan jenis antarmuka AI yang berbeda secara fundamental. Berbeda dengan interaksi berbasis giliran (prompt-response) yang umum pada produk AI saat ini, model Thinking Machines dirancang untuk memproses aliran audio, teks, dan video secara berkelanjutan dalam interval 200 milidetik. Tujuannya adalah untuk menangkap nuansa komunikasi manusia, termasuk interupsi, koreksi saat berbicara, bahkan jeda berpikir, dalam waktu yang mendekati real-time.

Murati menekankan bahwa ini masih merupakan langkah awal dan bukan produk final, serta menolak memberikan tanggal rilis spesifik. Ia juga menjawab pertanyaan mengenai perannya saat terjadi pergolakan di OpenAI pada November 2023, ketika dewan direksi memecat Sam Altman dan ia sempat menjabat sebagai CEO interim. Murati menyatakan bahwa ia yakin dengan keputusan yang diambilnya saat itu untuk melindungi misi dan tim OpenAI, meskipun situasi tersebut tampak kacau dari luar. Ia menambahkan bahwa OpenAI mungkin akan 'meledak' jika bukan karena keterlibatannya selama lima hari tersebut dan masa setelahnya. Namun, ia mengakui bahwa kejelasan niat tidak sama dengan kejelasan konsekuensi, dan secara retrospektif, ia akan berusaha lebih keras untuk mendapatkan informasi lebih banyak, rencana transisi yang lebih baik, dan transparansi yang lebih tinggi.

Ketika ditanya mengenai kepercayaannya terhadap Sam Altman, Murati mengalihkan pembicaraan ke isu yang lebih luas mengenai konsentrasi pengambilan keputusan penting di tangan segelintir orang, baik di OpenAI maupun di industri AI secara keseluruhan. Ia mengungkapkan kekhawatirannya bukan semata-mata pada karakter pemimpin individu, melainkan pada kurangnya mekanisme kontrol struktural. Menurutnya, orang baik pun bisa membuat keputusan yang buruk, dan organisasi yang berniat baik pun bisa menghadapi masalah.


Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi techcrunch.com.