bytedaily - Melansir laporan dari usatoday.com, Eropa tengah menghadapi dilema terkait penggunaan pendingin ruangan (AC) di tengah gelombang panas yang semakin intens. Meskipun AC dianggap sebagai solusi efektif untuk mencegah kematian akibat cuaca panas, adopsinya di Eropa masih tertinggal jauh dibandingkan Amerika Serikat.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gelombang panas telah merenggut 200.000 nyawa di Eropa dalam empat tahun terakhir, sebagian besar kematian tersebut dinilai dapat dicegah. AC diyakini sebagai cara paling efektif untuk melindungi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak dari dampak buruk suhu ekstrem.
Namun, penggunaan AC juga menimbulkan kekhawatiran. Teknologi ini berpotensi meningkatkan emisi gas rumah kaca dan terbukti dapat menaikkan suhu di perkotaan yang banyak menggunakannya. Kalangan politisi di Eropa, terutama dari kelompok kiri, menyuarakan keprihatinan atas inefisiensi unit AC dan mendorong pendekatan yang lebih komprehensif, seperti penyediaan lebih banyak pusat pendingin dan fleksibilitas jam kerja.
Isu AC ini bahkan telah memicu perdebatan politik di Prancis. Sementara politisi sayap kanan seperti Marine Le Pen menyerukan rencana besar-besaran pemasangan AC, otoritas kota seperti Wali Kota Paris, Emmanuel Grégoire, menganggap AC individual sebagai 'malapetaka' dan mengusulkan solusi alternatif seperti isolasi bangunan yang lebih baik. Perdebatan ini menyoroti kompleksitas penanganan krisis iklim yang bersinggungan dengan kebutuhan perlindungan kesehatan masyarakat.