bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, sejumlah akademisi menyambut baik kebijakan pemerintah terkait implementasi Biodiesel B50 yang dinilai mampu memperkuat swasembada energi nasional. Ekonom Universitas Negeri Manado (Unima), Robert Winerungan, menyatakan bahwa penghentian impor solar memberikan dampak positif signifikan bagi perekonomian Indonesia, terutama dalam hal penghematan devisa negara.
Robert menjelaskan bahwa sebagian besar devisa negara habis untuk impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dan pembayaran utang. Dengan tidak lagi mengimpor solar, penghematan devisa bisa mencapai angka yang besar, sekitar Rp170 triliun. Penghematan ini, menurutnya, sangat krusial karena devisa tidak lagi terkuras untuk impor BBM jenis solar.
Lebih lanjut, Robert mengemukakan bahwa manfaat penghematan devisa dari kebijakan B50 dapat diperluas untuk memperkuat kapabilitas teknologi Indonesia. Penguasaan teknologi yang lebih baik diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan menekan biaya produksi, sehingga produk-produk dalam negeri menjadi lebih kompetitif di pasar global.
Selain itu, peningkatan pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel juga dipandang dapat menciptakan kepastian permintaan. Hal ini pada gilirannya akan membantu menjaga stabilitas penjualan dan harga komoditas sawit. Robert juga mengapresiasi upaya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam mengakselerasi pelaksanaan kebijakan swasembada energi melalui B50.
Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, turut menyoroti peran penting industri sawit bagi perekonomian Indonesia, mulai dari penyerapan tenaga kerja, pengurangan kemiskinan di pedesaan, hingga kontribusinya dalam menghasilkan devisa melalui ekspor dan pengurangan impor.
Yayan menekankan bahwa peningkatan penggunaan biodiesel hingga B50 perlu diimbangi dengan penguatan ekosistem pendukung. Peningkatan kebutuhan bahan baku sawit menuntut adanya upaya peningkatan produktivitas kebun sawit rakyat, diversifikasi bahan baku, serta penguatan sektor pembiayaan agar program B50 dapat berjalan secara berkelanjutan.
Menurut Yayan, perbaikan pungutan, pemasangan katup pengaman campuran, diversifikasi bahan baku ke limbah, perlindungan pangan melalui Harga Eceran Tertinggi, dan peningkatan produktivitas perkebunan rakyat adalah langkah-langkah penting agar B50 dapat menjadi kemenangan ketahanan energi yang dapat ditanggung oleh Indonesia baik secara fiskal maupun lingkungan. Ia mencatat bahwa kebijakan Kementerian ESDM yang telah mengatur arah kebijakan pencampuran biodiesel hingga 2030 telah mempertimbangkan aspek kesiapan bahan baku, pembiayaan, dan infrastruktur, yang menunjukkan bahwa peningkatan campuran biodiesel tidak hanya menjadi fokus utama, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan program dan optimalisasi manfaat B50 terhadap ketahanan energi.