bytedaily
Sabtu, 04 Juli 2026 - 07:16 WIB

El Niño dan Perubahan Iklim Mengancam Ketahanan Pangan Global

Redaksi 10 Juni 2026 14 views
El Niño dan Perubahan Iklim Mengancam Ketahanan Pangan Global
Ilustrasi visual (Sumber referensi: nature.com)

bytedaily - Melansir laporan dari nature.com, fenomena El Niño yang diprediksi akan terjadi tahun ini, ditambah dengan meningkatnya dampak perubahan iklim, menimbulkan kekhawatiran serius terhadap ketahanan pangan global. Gelombang panas ekstrem dan suhu rekor telah melanda berbagai wilayah, termasuk India dan Eropa, yang terjadi bersamaan dengan akumulasi panas di Samudra Pasifik Timur. Meskipun kekuatan El Niño mendatang masih belum pasti, para ahli memperingatkan bahwa dampaknya, ditambah dengan latar belakang iklim yang semakin hangat dan tidak stabil serta konflik global, dapat berakibat fatal.

Lebih jauh lagi, dampak perubahan iklim sudah terasa pada perekonomian. Sebuah laporan sintesis terbaru menunjukkan bahwa efek makroekonomi dari perubahan suhu dan kenaikan permukaan laut telah menyebabkan penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita sebesar 4-12% di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Proyeksi lebih lanjut mengindikasikan penurunan pendapatan rata-rata individu sebesar 3-15% pada tahun 2050. Angka-angka ini menegaskan urgensi tindakan mitigasi dan adaptasi yang harus segera dilakukan oleh pemerintah untuk meminimalkan dampak yang lebih buruk.

Sementara negara-negara berupaya mengatasi perubahan iklim secara individual, perencanaan internasional terpusat pada Konferensi Para Pihak (COP) iklim tahunan. Tahun ini, COP akan dipimpin bersama oleh Türkiye sebagai tuan rumah dan Australia sebagai presiden negosiasi. Kedua negara telah merilis pernyataan bersama mengenai ambisi mereka, termasuk kemitraan Australia dengan negara-negara Kepulauan Pasifik dan penunjukan Utusan Iklim Pasifik. Negara-negara ini berada di garis depan dampak iklim, dan Negara Berkembang Pulau Kecil (SIDS) menjadi motor penggerak pergeseran ambisi dari membatasi pemanasan hingga 2°C menjadi 1.5°C dalam negosiasi Paris. Pernyataan tersebut juga mencakup komitmen untuk memperkuat kepercayaan pada proses iklim PBB demi menghasilkan keluaran yang konkret.

Meskipun demikian, terdapat kritik terhadap kemampuan COP iklim dalam mencapai hasil yang nyata, mengingat kebutuhan konsensus dari semua negara anggota untuk adopsi proposal, yang seringkali menghasilkan proposal yang lebih moderat untuk mengakomodasi kesiapan dan ambisi semua pihak.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media nature.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.