bytedaily - Dilansir dari techcrunch.com, Enhanced Games, sebuah kompetisi atletik yang unik dan kontroversial, telah mengumpulkan 42 atlet dari berbagai disiplin seperti angkat besi, renang, dan lari di Las Vegas. Keunikan utama ajang ini adalah mayoritas pesertanya menggunakan obat-obatan peningkat kinerja (performance-enhancing drugs/PEDs). Kompetisi ini secara luas dijuluki sebagai "Olimpiade Steroid" oleh para kritikus.
Para atlet dalam Enhanced Games secara terbuka menggunakan berbagai macam zat seperti anabolik, testosteron, peptida, dan hormon pertumbuhan manusia. Proses ini dilakukan di bawah pengawasan tim profesional medis. Para peserta, yang berasal dari latar belakang usia, tingkat keahlian, dan latar belakang yang beragam, menghabiskan 12 minggu di Uni Emirat Arab untuk berlatih dan bekerja sama dengan dokter dalam menyesuaikan "protokol" atau kombinasi obat-obatan yang sesuai dengan kebutuhan individu mereka.
Selain itu, para atlet menerima "biaya penampilan" hanya untuk berpartisipasi. Ada pula hadiah uang tunai tambahan yang signifikan bagi siapa pun yang berhasil memecahkan rekor dunia atau meraih posisi teratas. Sebagai contoh, pemecahan rekor pada nomor lari 100 meter atau renang gaya bebas 50 meter dapat dihadiahi hingga $1 juta.
Ajang yang terkesan tidak lazim ini ternyata memiliki akar di Silicon Valley. Enhanced Games merupakan inisiatif dari sebuah perusahaan rintisan yang didirikan oleh para veteran di industri kripto, kecerdasan buatan (AI), dan bioteknologi. Perusahaan ini mendapat dukungan dari investor ternama seperti Peter Thiel dan mantan eksekutif Coinbase, Balaji Srinivasan. Acara ini juga menjadi garda depan dalam industri peningkatan manusia (human enhancement) yang semakin berkembang, di mana obat-obatan suntik dan suplemen oral menjadi sumber pemberdayaan fisik sekaligus peluang bisnis yang menjanjikan.
Namun, Enhanced Games menuai kritik keras dari organisasi kesehatan atletik tradisional. World Anti-Doping Agency (WADA), badan pengatur Olimpiade, menyebut kompetisi ini "berbahaya." Travis Tygart, CEO U.S. Anti-Doping Agency, menggambarkannya sebagai "pertunjukan badut yang mengutamakan keuntungan di atas manusia." Penggunaan steroid sendiri telah lama dipandang dengan hati-hati oleh komunitas kesehatan internasional, bahkan obat-obatan konsumen yang telah disetujui secara federal pun terkadang menimbulkan kekhawatiran di kalangan profesional kesehatan.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi techcrunch.com.