bytedaily - Melansir laporan dari forbes.com, Ferrari telah mengambil langkah signifikan dengan meluncurkan kendaraan listrik pertamanya, Luce, yang memiliki tenaga 1.000 tenaga kuda. Peluncuran ini menandai pergeseran strategi dibandingkan dengan para pesaing utamanya di industri mobil eksotis.
Di tengah dorongan elektrifikasi global dan investasi besar dari produsen mobil konvensional, Ferrari menjadi pabrikan supercar Italia besar pertama yang merilis model andalan sepenuhnya bertenaga listrik. Sikap ini berbeda dengan Lamborghini dan Pagani yang secara terbuka menyatakan keyakinan mereka pada kelangsungan mesin pembakaran internal, meskipun dengan bantuan teknologi hibrida.
Perbedaan pendekatan ini menimbulkan pertanyaan mengapa Ferrari memilih untuk melangkah lebih dulu sementara kompetitornya masih ragu. Menurut forbes.com, salah satu faktornya adalah posisi unik Ferrari di pasar otomotif mewah. Berbeda dengan Lamborghini dan Pagani, Ferrari tidak hanya dikenal sebagai produsen supercar, tetapi juga perusahaan terbuka yang diharapkan memberikan pertumbuhan jangka panjang dan memiliki merek yang melampaui mobil sport tradisional.
Ferrari menekankan bahwa mereka tidak akan meninggalkan mesin pembakaran internal. Model seperti 12Cilindri yang menggunakan mesin V12 tetap menjadi bagian penting dari identitas mereka. Sebaliknya, elektrifikasi dipandang sebagai pilar tambahan untuk strategi produk masa depan. Laporan dari Morningstar pada 1 Juni menyebutkan bahwa kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) dan hibrida diproyeksikan masih akan mendominasi 80% dari portofolio produk Ferrari pada tahun 2030, menjadikannya penggerak utama volume dan pendapatan dalam jangka menengah.
Model Luce dirancang untuk menarik pelanggan baru, bukan menggantikan pemilik Ferrari yang sudah ada. Ferrari meyakini adanya segmen pembeli kaya yang berfokus pada teknologi, menghargai performa, namun tidak terlalu terikat pada suara mesin V12. Bagi segmen ini, akselerasi, inovasi, dan eksklusivitas mungkin lebih penting daripada raungan knalpot.
Sementara itu, Lamborghini mengambil pendekatan yang lebih hati-hati. Pabrikan asal Sant'Agata ini telah mengadopsi teknologi plug-in hybrid melalui model seperti Revuelto dan Temerario, namun terus menunda peluncuran mobil listrik sepenuhnya. CEO Lamborghini, Stephan Winkelmann, menyatakan bahwa pelanggan mereka masih sangat mengutamakan mesin pembakaran internal dan powertrain hibrida.