bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, fenomena gerhana matahari total (GMT) yang spektakuler akan terjadi pada 12 Agustus 2026. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa gerhana ini tidak dapat diamati dari wilayah Indonesia karena jalur lintasannya tidak melewati Nusantara dan berlangsung pada malam hari di Indonesia.
Masyarakat Indonesia yang ingin menyaksikan peristiwa ini disarankan untuk mengikutinya melalui kanal resmi NASA, seperti yang disampaikan oleh Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu. Gerhana matahari total terjadi ketika Bulan secara penuh menutupi piringan Matahari, menciptakan zona totalitas di mana Matahari terhalang sepenuhnya dan bayangan tergelap Bulan terlihat.
Fenomena astronomi ini dapat disaksikan di beberapa wilayah Bumi, termasuk Greenland, Islandia, Spanyol bagian utara, dan Portugal bagian timur laut. Bagi Spanyol, ini menandai gerhana matahari total pertama yang terlihat dari daratannya sejak tahun 1905, serta yang pertama dari tiga gerhana matahari yang akan dialami negara tersebut hingga 2028.
Direktur Sains Badan Antariksa Eropa (ESA), Carole Mundell, menggambarkan gerhana matahari total sebagai momen langka yang menyatukan jutaan orang untuk merasakan keajaiban alam semesta dan mengingatkan akan keinginan manusia untuk menjelajah dan memahami. Jalur totalitas gerhana pada 12 Agustus 2026 akan membentang sepanjang 8.300 kilometer, dimulai di sekitar pesisir Arktik, melintasi Kutub Utara, lalu ke Greenland, Islandia, Portugal, dan Spanyol utara.
Durasi fase totalitas diperkirakan mencapai lebih dari dua menit di Greenland, sementara di Spanyol utara diperkirakan hanya sekitar 20 detik. Gerhana ini akan melintasi wilayah Galicia dan Kepulauan Balearic di Spanyol menjelang matahari terbenam.