bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, hasil survei terbaru menunjukkan bahwa populasi orangutan Sumatera mengalami penurunan signifikan sebesar 19,5 persen antara tahun 2011 hingga 2023. Survei ini merupakan bagian dari penilaian kelayakan populasi dan habitat (Population and Habitat Viability Assessment/PHVA) yang sangat dinantikan oleh komunitas konservasi global.
Pengumuman hasil survei ini disampaikan dalam Seminar Nasional Refleksi Satu Dekade Konservasi Orangutan di Medan, Sumatera Utara, pada 18 Mei. Data terkini memperkirakan jumlah orangutan Sumatera (Pongo abelii) kini hanya tersisa 11.694 individu, berkurang sekitar 2.700 ekor dibandingkan survei 12 tahun sebelumnya. Sementara itu, populasi orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) diperkirakan hanya mencapai 716 individu.
Menurut Kementerian Kehutanan, penurunan populasi ini disebabkan oleh berbagai faktor yang masih berlangsung, termasuk hilangnya dan terfragmentasinya habitat, konflik antara manusia dan orangutan, serta ancaman lain yang menghambat perkembangbiakan alami satwa tersebut. Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, menekankan pentingnya seminar ini sebagai momentum untuk memperkuat tata kelola konservasi orangutan di kawasan konservasi maupun area preservasi.
Rohmat Marzuki menyatakan bahwa orangutan Sumatera dan Tapanuli adalah satwa endemik kebanggaan Indonesia yang berstatus kritis (critically endangered). Ia menegaskan bahwa satwa ini bukan hanya kekayaan alam, tetapi juga indikator kesehatan ekosistem hutan. Indonesia, bersama sebagian Malaysia, merupakan habitat terakhir bagi tiga spesies orangutan dunia, termasuk orangutan Kalimantan. Kerusakan habitat dan perburuan menjadi ancaman kritis bagi kelangsungan hidup satwa langka ini, terutama mengingat kemampuan reproduksi orangutan yang lambat, di mana betina umumnya melahirkan satu anak setiap tujuh hingga sembilan tahun.
Pemerintah berencana menyusun PHVA 2026 sebagai dasar ilmiah untuk memperbarui Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) orangutan. Dede Aulia Rahman, peneliti IPB University, menganggap kondisi ini sebagai keadaan darurat konservasi. Ia menyoroti bahwa hilangnya habitat masih menjadi ancaman utama, dengan sekitar 76 persen variasi perubahan populasi dipengaruhi oleh hilangnya hutan akibat ekspansi perkebunan, pembangunan infrastruktur, pertambangan, dan perambahan ilegal seluas kurang lebih 94.399 hektare di wilayah sebaran orangutan selama periode 2011-2023.
Dede Aulia Rahman juga menekankan bahwa hilangnya habitat bukanlah satu-satunya penyebab. Pembunuhan akibat konflik manusia-orangutan, perburuan, perdagangan ilegal, dan fragmentasi habitat memberikan tekanan yang signifikan. Ia berpendapat bahwa ancaman-ancaman ini saling memperkuat dan tidak tepat jika dipisahkan.