bytedaily
Jumat, 03 Juli 2026 - 14:26 WIB

Gerhana Matahari Total Terlama Abad Ini Akan Terjadi 2 Agustus 2027

Redaksi 03 Juli 2026 1 views
Gerhana Matahari Total Terlama Abad Ini Akan Terjadi 2 Agustus 2027
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Gerhana Matahari Total (GMT) yang diprediksi menjadi yang terlama sepanjang abad ke-21 di daratan yang mudah diakses akan berlangsung pada 2 Agustus 2027. Fenomena astronomi ini diperkirakan akan menyajikan pemandangan langit selama lebih dari enam menit.

Gerhana yang dijuluki sebagai "gerhana abad ini" ini diprediksi akan melintasi beberapa wilayah, termasuk Spanyol bagian selatan, Maroko, Arab Saudi, dan Mesir. Beberapa kota besar yang berada tepat di jalur totalitas meliputi Cádiz dan Málaga di Spanyol, Tangier di Maroko, serta Jeddah dan Mekkah di Arab Saudi.

Kota Luxor di Mesir diperkirakan akan menjadi salah satu lokasi favorit para pengamat. Durasi totalitas maksimum diperkirakan mencapai 6 menit 23 detik, yang akan terjadi sekitar 60 kilometer di sebelah tenggara kota tersebut. Durasi ini secara signifikan lebih panjang dibandingkan gerhana matahari total tahun 2026 yang hanya berlangsung 2 menit 18 detik, serta gerhana di Amerika Utara pada April 2024 yang berlangsung selama 4 menit 28 detik.

Secara teoritis, durasi gerhana matahari total terpanjang yang mungkin terjadi adalah sekitar tujuh setengah menit. Kondisi ini dapat tercapai jika Matahari berada di titik apogee (titik terjauh dari Bumi), Bulan berada di titik perigee (titik terdekat dengan Bumi), dan jalur totalitas melintasi ekuator. Meskipun kombinasi ini jarang terjadi, gerhana pada tahun 2027 disebut mendekati kondisi ideal tersebut.

Menurut Kelly Korreck, ilmuwan program gerhana di Markas Besar NASA, seperti dikutip dari Euronews, Bumi merupakan satu-satunya planet yang diketahui mengalami jenis gerhana matahari seperti ini. Ia menambahkan bahwa keberadaan bulan lain yang melintas di depan Matahari memang ada, namun memiliki Bulan dengan ukuran dan jarak yang pas untuk menyaksikan fenomena ini adalah sesuatu yang istimewa.

Bagi para pengamat di jalur totalitas, pengalaman yang ditawarkan tidak hanya sebatas visual. Suhu udara diperkirakan dapat turun hingga 10 derajat Celsius saat Bulan menutupi Matahari. Selain itu, bintang-bintang terang dan beberapa planet juga dapat terlihat di langit yang mendadak gelap.

Selama fase totalitas, korona, yaitu lapisan terluar atmosfer Matahari yang umumnya tidak terlihat, akan tampak seperti filamen cahaya tipis yang memancar ke segala arah dan dapat diamati dengan mata telanjang. Korreck menjelaskan bahwa otak manusia cenderung menafsirkan gerhana sebagai sesuatu yang tidak biasa dan mungkin menimbulkan kecemasan karena kegelapan langit yang tidak lazim. Namun, ia menambahkan bahwa pengalaman menyaksikan totalitas dan keindahan korona Matahari sangat menakjubkan dan membuat orang ingin mengalaminya lagi.

Untuk memastikan keamanan saat mengamati gerhana, penggunaan kacamata gerhana khusus sangat diwajibkan ketika berada di luar fase totalitas. Kacamata tersebut harus memenuhi standar internasional ISO 12312-2, yang memiliki tingkat kegelapan ribuan kali lebih tinggi dibandingkan kacamata hitam biasa.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.