bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, industri dirgantara Indonesia dinilai memiliki potensi signifikan untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok global. Hal ini seiring dengan meningkatnya permintaan produksi pesawat dan komponen penerbangan di seluruh dunia. Ketersediaan sumber daya industri, letak geografis yang strategis di Asia Tenggara, serta kemajuan kapabilitas manufaktur menjadi faktor kunci bagi Indonesia untuk memanfaatkan peluang ini.
Menurut Managing Director PT Turkish Aerospace Indonesia (TAID), Adi Aviantoro, Indonesia dapat menjadi pemain penting dalam ekosistem dirgantara global. Namun, untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan penguatan kolaborasi antara industri, pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha nasional. Adi menekankan pentingnya sebuah platform kolaborasi untuk memperkuat ekosistem dirgantara, meningkatkan kapabilitas industri, serta membuka lebih banyak kesempatan bagi perusahaan Indonesia untuk terlibat dalam rantai pasok global.
Adi menjelaskan bahwa perubahan lanskap industri dirgantara global telah membuka ruang bagi negara-negara berkembang untuk mengambil peran yang lebih besar. Peningkatan kebutuhan produksi, restrukturisasi rantai pasok global, dan perkembangan teknologi menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan oleh Indonesia. Potensi ini juga menjadi alasan Turkish Aerospace (TUSAŞ) memilih Indonesia sebagai basis strategis di Asia Tenggara, yang diwujudkan melalui pendirian PT Turkish Aerospace Indonesia sejak 2022 untuk layanan rekayasa (engineering services) global.
Emrah Ekri, Industrialization Operations Manager Turkish Aerospace (TUSAŞ), menambahkan bahwa Indonesia memiliki keunggulan kompetitif dalam mengembangkan industri dirgantara. Selain sumber daya yang kompetitif, Indonesia juga didukung oleh basis industri manufaktur yang terus berkembang dan berlokasi strategis. Emrah yakin bahwa dengan pengembangan ekosistem yang kuat dan berkelanjutan, Indonesia dapat memainkan peran yang lebih signifikan dalam rantai pasok dirgantara global.
Untuk memperkuat industri dirgantara nasional, keterlibatan yang lebih luas dari perusahaan dalam negeri yang memiliki kompetensi di bidang pemesinan (machining), proses khusus (special process), layanan rekayasa, dan berbagai layanan manufaktur pendukung lainnya sangat dibutuhkan. Indonesia Aerospace Ecosystem Forum (IAEF) 2026 yang diselenggarakan di Bandung bertujuan untuk mempertemukan para pelaku industri, regulator, akademisi, dan mitra global. Forum ini diharapkan dapat memperkuat fondasi industri dalam negeri dan meningkatkan peluang perusahaan Indonesia untuk masuk ke dalam rantai pasok dirgantara dunia.