bytedaily - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengintensifkan upaya pemulihan infrastruktur di Provinsi Aceh pasca-bencana, dengan fokus utama pada percepatan pembangunan sabo dam dan penanganan material lumpur di wilayah terdampak. Langkah strategis ini diambil sebagai respons terhadap tingginya curah hujan yang masih berlangsung dan potensi dampak lanjutan yang dapat mengancam keselamatan warga serta kelancaran aktivitas ekonomi.
Menteri PUPR, Dody Hanggodo, menyatakan bahwa pembangunan sabo dam, yang sejatinya direncanakan pada fase rekonstruksi, kini dipercepat bahkan sejak tahap tanggap darurat. Keputusan ini didorong oleh kekhawatiran akan potensi material kayu dari kawasan pegunungan yang terbawa arus deras hingga ke wilayah hilir seperti Aceh Tamiang. Selain itu, penanganan lumpur di permukiman warga, khususnya di Pidie Jaya dan Aceh Tamiang, menjadi prioritas krusial. Meskipun akses jalan utama menunjukkan perbaikan, kondisi di dalam permukiman masih memprihatinkan akibat timbunan lumpur, sehingga pembersihan intensif melalui program padat karya yang melibatkan masyarakat setempat terus digalakkan.
Lebih lanjut, Kementerian PUPR berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta pemerintah daerah untuk menerapkan operasi modifikasi cuaca guna meredam intensitas hujan. Percepatan juga menyasar pembangunan jembatan penghubung di daerah terpencil yang terdampak, dengan desain cepat dan kemungkinan melibatkan dukungan TNI untuk memastikan mobilitas masyarakat dan kelancaran logistik. Upaya pemulihan ini juga mencakup pembersihan irigasi primer dan sekunder menjelang musim tanam, bekerja sama dengan Kementerian Pertanian, demi mengembalikan produktivitas lahan pertanian. Hingga 21 Maret 2026, tercatat 38.169 rumah rusak berat di Aceh, dengan 74% hunian sementara telah terbangun.