bytedaily
Sabtu, 04 Juli 2026 - 08:27 WIB

Kongres AS Laporkan 42 Pesawat Militer Hilang di Iran, Pentagon Enggan Beri Data

Redaksi 21 Mei 2026 15 views
Kongres AS Laporkan 42 Pesawat Militer Hilang di Iran, Pentagon Enggan Beri Data
Ilustrasi visual (Sumber: jalopnik.com)

bytedaily - Dilansir dari jalopnik.com, sebuah laporan dari Congressional Research Service (CRS) mengungkapkan bahwa sebanyak 42 pesawat militer Amerika Serikat mengalami kerusakan atau hancur selama konflik di Iran. Laporan ini disusun dari berbagai sumber karena Pentagon tidak memberikan rincian mengenai kerugian tersebut, dengan alasan keamanan operasional terkait perang dan gencatan senjata yang rapuh, atau untuk meminimalkan persepsi biaya.

Kerugian tersebut mencakup pesawat sayap tetap, helikopter, dan drone canggih. Beberapa pesawat tempur yang hilang antara lain satu unit F-35A Lightning II, empat unit F-15E Strike Eagle, dan satu unit A-10 Thunderbolt II. Pesawat pendukung yang juga hilang termasuk tujuh unit KC-135 Stratotanker, satu unit E-3 Sentry AWACS yang penting dan sulit digantikan, serta dua unit MC-130J Commando II yang digunakan untuk mengangkut pasukan khusus.

Di sisi helikopter, hanya tercatat satu kerugian, yaitu helikopter pencari-selamat HH-60W Jolly Green II. Untuk kategori drone, Angkatan Laut AS kehilangan satu unit drone pengintai MQ-4C Triton. Kerugian terbesar dialami oleh drone pengebom MQ-9 Reaper dengan total 24 unit hilang.

CRS melaporkan bahwa Pentagon merevisi perkiraan biaya perang dari $25 miliar menjadi $29 miliar, dengan alasan biaya perbaikan dan penggantian pesawat. Angka ini belum termasuk kerusakan pada pangkalan atau infrastruktur darat. Jika diasumsikan sisa biaya tersebut adalah untuk pesawat, maka kerugiannya mencapai sekitar $4 miliar.

Kehilangan pesawat-pesawat ini tidak hanya menimbulkan kerugian finansial, tetapi juga berpotensi menciptakan celah dalam postur strategis Amerika Serikat, bahkan setelah konflik berakhir. Beberapa pesawat, seperti AWACS, sulit untuk digantikan, sementara pesawat lain yang masih diproduksi membutuhkan waktu untuk penggantian. Hal ini juga memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pesawat beranggaran tinggi di era di mana drone murah mulai mendefinisikan ulang peperangan.

Laporan tersebut juga menyoroti kemajuan sistem pertahanan udara yang membuat serangan udara konvensional menjadi lebih berisiko, sebagaimana terlihat dalam Perang Rusia-Ukraina. Meskipun kerugian dalam operasi besar seperti ini sudah diperkirakan, pertanyaan krusialnya adalah apakah hasil yang dicapai sepadan dengan harga yang harus dibayar.


Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi jalopnik.com.