bytedaily
Selasa, 26 Mei 2026 - 01:48 WIB

Manchester City Juara WSL 2025-26, Leicester City Terdegradasi

Redaksi 25 Mei 2026 6 views
Manchester City Juara WSL 2025-26, Leicester City Terdegradasi
Ilustrasi visual (Sumber: bbc.com)

bytedaily - Dilansir dari bbc.com, musim 2025-26 Liga Primer Wanita (WSL) telah usai dengan Manchester City dinobatkan sebagai juara. Sementara itu, Leicester City harus terdegradasi setelah kalah dari Charlton Athletic dalam pertandingan play-off perdana.

Pendatang baru, London City Lionesses, berhasil beradaptasi dengan cepat, namun Tottenham Hotspur menjadi kejutan musim ini dengan finis sebagai tim terbaik di luar empat besar tradisional.

Bagi Manchester City, ini adalah musim yang sempurna. Mereka berhasil meraih gelar liga pertama dalam satu dekade di bawah arahan manajer Andree Jeglertz dalam kampanye debutnya. Tanpa gangguan dari kompetisi Liga Champions, City mampu memfokuskan seluruh tenaga untuk meraih gelar WSL dan mendominasi lawan.

Manchester City mencatatkan 13 kemenangan beruntun antara September dan Februari, bahkan sempat unggul 12 poin dari Chelsea. Kunci keberhasilan mereka juga terletak pada duet Khadija Shaw dan Vivianne Miedema yang mencetak total 31 gol, separuh dari total gol klub. Dengan skuad bertabur bintang, City berharap dapat bersaing di berbagai ajang Eropa tahun depan, meskipun harus mencari pengganti Shaw yang diperkirakan akan hengkang.

Arsenal, yang berstatus juara Eropa tahun lalu, memiliki harapan tinggi untuk meraih gelar WSL pertama sejak 2019. Namun, cedera dan beberapa penampilan mengecewakan membuat mereka tertinggal di awal musim, yang dimanfaatkan oleh City dalam perburuan gelar. Meski demikian, Arsenal tetap mampu melaju hingga semifinal Liga Champions, menambah catatan positif di musim yang stabil. Musim 2026-27 diprediksi akan menjadi tahun transisi dengan kepergian pemain senior dan kedatangan wajah-wajah baru, namun Arsenal berada di posisi yang baik untuk kembali bersaing memperebutkan trofi.

Chelsea, yang sebelumnya memenangkan enam gelar WSL berturut-turut, mendatangkan penyerang Alyssa Thompson dan bek Ellie Carpenter. Namun, krisis cedera di lini depan dan gejolak internal, termasuk kepergian kepala sepak bola wanita Paul Green, berdampak pada musim yang mengecewakan. Meskipun manajer Sonia Bompastor sempat mendapat sorotan, timnya masih berhasil memenangkan Piala Liga pada Maret. Namun, klub sebesar Chelsea menargetkan trofi yang lebih besar, dan Bompastor menyerukan agar klub membangun skuad yang lebih dalam musim depan.

Bagi Manchester United, finis di atas tiga tim teratas dan menjalani debut di Liga Champions menjadi tantangan berat. Mereka dapat berbangga dengan pencapaian di Eropa, mencapai perempat final dengan skuad yang relatif kecil. Namun, performa liga mereka menurun saat memasuki babak gugur, terutama dengan absennya gelandang kunci Ella Toone di sebagian besar tahun 2026. Kurangnya persaingan yang mereka berikan untuk tim tiga besar menjadi catatan penting. Sejak Marc Skinner ditunjuk sebagai manajer, United tercatat paling banyak kebobolan gol melawan Chelsea (26), Manchester City (21), dan Arsenal (15), sebuah catatan yang harus segera diperbaiki.

Kejutan terbesar musim ini adalah kebangkitan Tottenham Hotspur di bawah asuhan manajer Martin Ho. Ho mengambil alih tim yang finis di posisi kedua dari bawah pada musim 2024-25 dan diprediksi kembali terlibat dalam pertempuran degradasi. Ia berhasil mengubah mereka menjadi salah satu tim paling kompetitif di liga dan tampil mengesankan dalam pertandingan melawan Manchester United dan Arsenal. Pergerakan cerdas di bursa transfer Januari juga memberikan dorongan tambahan bagi Spurs, yang menunjukkan ambisi untuk musim depan. Secara keseluruhan, ini adalah tahun yang sangat sukses bagi Tottenham.


Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi bbc.com.