bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, seorang mantan safety engineer senior Meta, Arturo Béjar, menyatakan bahwa perusahaan tempatnya bekerja dahulu telah lama mengetahui potensi bahaya produk mereka terhadap anak-anak, namun masalah tersebut diabaikan.
Pernyataan ini disampaikan Béjar dalam persidangan di Oakland, California, yang berkaitan dengan gugatan dari sejumlah negara bagian Amerika Serikat mengenai dampak negatif Facebook dan Instagram terhadap remaja dan anak di bawah usia 16 tahun.
Béjar mengungkapkan dalam kesaksiannya bahwa ia telah beberapa kali memperingatkan CEO Meta, Mark Zuckerberg, mengenai temuan-temuannya, termasuk rekomendasi konten yang berpotensi berasal dari predator seksual dan gambar-gambar kekerasan.
Menurut laporan The Guardian yang dikutip cnnindonesia.com, Béjar selama persidangan selama dua hari memaparkan hasil penelitiannya mengenai risiko bagi anak-anak dan ketergantungan Meta pada pendapatan iklan. Ia menyoroti fitur seperti infinite scroll yang membuat pengguna terus terpaku pada layar, yang menguntungkan bagi perusahaan.
"Ketika pengguna melakukan scrolling, semakin banyak tayangan yang didapat, semakin banyak iklan yang bisa dijual, dan semakin besar pendapatan yang dihasilkan," ujar Béjar dalam kesaksiannya.
Béjar mengklaim telah berkomunikasi dengan Zuckerberg lebih dari 100 kali. Bukti berupa email yang diajukan dalam persidangan menunjukkan bahwa Béjar telah mengirimkan peringatan kepada Zuckerberg sejak tahun 2021 terkait laporan konten berbahaya dan kekerasan bagi remaja di Facebook dan Instagram.
Peringatan tersebut dikirimkan Béjar setelah Zuckerberg secara publik menyatakan bahwa perusahaan memprioritaskan keselamatan anak di atas keuntungan. Namun, Béjar menyatakan bahwa Zuckerberg tidak pernah merespons laporannya.
"Saya merasa bahwa dia menciptakan kesan yang salah dan menyesatkan tentang komitmen Facebook terhadap anak muda," kata Béjar.
Gugatan ini diajukan oleh 29 jaksa agung negara bagian AS yang menuduh Meta secara sengaja merancang produk yang membuat remaja kecanduan dan merugikan mereka. Perusahaan juga dituduh melanggar hukum dengan mengumpulkan data anak di bawah 13 tahun tanpa persetujuan orang tua.
Persidangan yang dimulai pada hari Selasa ini diperkirakan akan berlangsung setidaknya selama enam minggu. Sejumlah dokumen internal dan email Meta telah dirilis sebagai bagian dari bukti.
Mark Zuckerberg dan CEO Instagram Adam Mosseri, bersama dengan eksekutif lainnya serta ahli kesehatan mental dan kecanduan anak, dipanggil sebagai saksi dalam persidangan ini.
Meta membantah seluruh tuduhan tersebut. Pengacara perusahaan, Paul Schmidt, mengakui adanya kemungkinan masalah yang timbul dari penggunaan media sosial. Namun, ia menyatakan bahwa Meta telah berupaya mengatasi risiko dengan melarang anak-anak mendaftar akun dan menonaktifkan lebih dari satu juta akun pengguna di bawah usia 13 tahun.
Proses hukum ini berpotensi menimbulkan dampak finansial yang signifikan bagi Meta. Jika terbukti bersalah, perusahaan dapat diwajibkan membayar ganti rugi sebesar $200 miliar atau sekitar Rp3,55 kuadriliun, yang setara dengan pendapatan tahunan mereka.