bytedaily - Nilai tukar mata uang Iran, rial, menjadi perhatian global seiring ketegangan geopolitik dan kebijakan ekonomi internasional yang memengaruhi kekuatan sang mata uang. Tekanan sanksi dan inflasi berkepanjangan telah mendorong rial ke posisi terendah, terutama saat dikonversikan ke mata uang asing seperti euro, mencerminkan kesulitan ekonomi yang dihadapi negara tersebut.
Menariknya, dalam transaksi sehari-hari di Iran, masyarakat lebih lazim menggunakan sebutan 'toman' daripada 'rial'. Fenomena ini lahir dari tingginya angka inflasi yang membuat para pedagang dan konsumen menyederhanakan penyebutan harga. Satu toman dipahami setara dengan 10.000 rial, atau rial yang disederhanakan dengan menghilangkan empat angka nol.
Secara hukum, rial (IRR) tetap menjadi mata uang resmi Iran yang digunakan dalam sistem perbankan dan transaksi formal. Namun, kepraktisan dalam percakapan sehari-hari membuat toman lebih populer. Satu toman bernilai sepuluh rial lama, yang berarti harga 60.000 toman secara riil setara dengan 600.000 rial.
Untuk mengatasi kebingungan yang muncul akibat perbedaan penyebutan ini dan menyederhanakan tatanan keuangan, Bank Sentral Iran telah meluncurkan kebijakan redenominasi. Sejak 2020, Iran secara bertahap mulai mengganti satuan mata uang utama dari rial menjadi toman versi baru, di mana 10.000 rial lama disetarakan dengan 1 toman baru. Proses penuh diperkirakan rampung pada 2025-2026, dengan harapan menyederhanakan sistem keuangan nasional di masa mendatang. Dalam skema baru ini, satu toman juga akan dibagi lagi menjadi 100 qiran.