bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, gerhana matahari total tidak hanya menyajikan pemandangan Matahari yang tertutup sempurna oleh Bulan, tetapi juga fenomena unik bernama 'shadow bands' yang dapat diamati sesaat sebelum dan sesudah fase totalitas.
Fenomena ini digambarkan sebagai garis-garis gelap panjang yang dipisahkan oleh area terang, bergerak cepat melintasi permukaan tanah atau dinding bangunan. Selama berabad-abad, pengamat gerhana telah mendeskripsikan fenomena ini menyerupai riak air, ular bayangan, atau pola terang dan gelap yang bergerak.
Meskipun telah diamati selama berabad-abad, para ilmuwan belum mencapai kesimpulan pasti mengenai penyebab pasti dari 'shadow bands'. Profesor fisika dan astronomi dari University of Pittsburgh, David Turnshek, yang pertama kali menyaksikan fenomena ini pada usia 14 tahun, mencatat pengamatannya terhadap pita-pita cahaya yang menyapu permukaan tanah sesaat sebelum gerhana total.
Mata manusia cukup peka untuk mendeteksi 'shadow bands', namun merekamnya melalui foto atau video sangatlah sulit karena perbedaan kontras antara area terang dan gelap yang sangat tipis.
Salah satu teori yang paling banyak dibahas adalah bahwa 'shadow bands' terbentuk akibat turbulensi atmosfer. Saat hampir seluruh Matahari tertutup Bulan, hanya menyisakan sabit cahaya yang sangat tipis, gangguan akibat pergerakan udara di atmosfer diperkirakan menjadi lebih kentara, mirip dengan penyebab bintang berkelap-kelip.
Untuk menguji teori ini, Turnshek bersama timnya melakukan penelitian saat gerhana matahari total melintasi Amerika Serikat pada tahun 2017. Mereka menggunakan sensor cahaya yang ditempatkan di permukaan tanah dan pada balon yang diterbangkan hingga ketinggian sekitar 25 kilometer. Jika turbulensi atmosfer adalah satu-satunya penyebab, pola 'shadow bands' seharusnya hanya terlihat di permukaan, bukan di ketinggian balon.
Namun, hasil penelitian menunjukkan adanya sinyal berkelanjutan dengan frekuensi 4,5 hertz baik di permukaan maupun di ketinggian tersebut. Temuan ini mengindikasikan bahwa turbulensi atmosfer mungkin bukan satu-satunya faktor penjelas.
Hasil penelitian ini kembali membuka kemungkinan mekanisme lain, yaitu difraksi dan interferensi cahaya. Difraksi terjadi ketika gelombang cahaya melewati tepi atau penghalang, membelok, dan berinteraksi untuk menciptakan pola terang dan gelap. Dalam konteks gerhana, tepi Bulan diduga dapat bertindak sebagai penghalang yang memengaruhi gelombang cahaya Matahari.
Turnshek menyatakan bahwa kedua mekanisme tersebut kemungkinan dapat bekerja secara bersamaan dalam menjelaskan fenomena 'shadow bands'. Ia menambahkan bahwa dalam situasi ilmiah yang kompleks, seringkali dua penjelasan bisa benar dan berkontribusi pada suatu fenomena.
'Shadow bands' cenderung muncul sesaat sebelum atau setelah fase totalitas, sehingga mudah terlewatkan. Untuk mengamatinya, disarankan menggunakan permukaan datar, halus, dan berwarna terang sebagai latar belakang. Gordon Telepun, seorang pengamat gerhana, menyarankan penggunaan papan yang dilapisi kain putih sebagai alat bantu untuk menangkap pola tersebut, karena sulit terlihat pada permukaan seperti rumput atau aspal.