bytedaily
Senin, 24 Agustus 2026 - 20:07 WIB

Meratanya Kekuatan Bulu Tangkis Dunia Berbanding Terbalik dengan Prestasi Indonesia

Redaksi 24 Agustus 2026 1 views
Meratanya Kekuatan Bulu Tangkis Dunia Berbanding Terbalik dengan Prestasi Indonesia
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, fenomena meratanya kekuatan bulu tangkis dunia yang semakin terlihat sejak akhir dekade 2000-an hingga kini justru berbanding terbalik dengan kondisi prestasi Indonesia. Pernyataan bahwa lawan yang dulunya tidak diperhitungkan kini mampu meraih gelar juara semakin terasa nyata.

Kondisi ini terbukti dengan bangkitnya kekuatan bulu tangkis dari negara-negara seperti Jepang dan India yang kembali memiliki pemain elite. Munculnya pemain-pemain sensasional dari negara yang bukan kekuatan tradisional bulu tangkis, seperti Carolina Marin dari Spanyol dan Tai Tzu Ying dari Taiwan, semakin memperkuat gambaran persaingan yang kian merata.

Namun, di tengah meratanya kekuatan tersebut, China justru dinilai tidak merasakan dampak negatif. Negara Tirai Bambu tersebut secara konsisten melahirkan juara demi juara dan tidak pernah absen dari gelar di Kejuaraan Dunia maupun Olimpiade. Contohnya di Kejuaraan Dunia 2026, meskipun sempat menghadapi situasi genting, China berhasil menyelamatkan tren juaranya melalui pasangan Liang Weikeng/Wang Chang.

Sebaliknya, Indonesia justru sering mengalami kegagalan. Kalimat 'persaingan kini makin merata' kerap menjadi alasan yang dikemukakan ketika Indonesia gagal meraih gelar. Puasa gelar juara dunia di sektor bulu tangkis bagi Indonesia berlanjut setelah pasangan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan menjuarai Kejuaraan Dunia 2019.

Rentang waktu ini merupakan periode terlama Indonesia tanpa gelar juara dunia sejak era 1983-1993. Jika pada masa lalu Kejuaraan Dunia diselenggarakan dua tahun sekali, saat ini turnamen tersebut berlangsung setiap tahun, kecuali tahun Olimpiade. Hal ini berarti Indonesia telah melewatkan lima edisi Kejuaraan Dunia tanpa gelar, dengan empat di antaranya (2022, 2023, 2025, dan 2026) tanpa wakil juara, terlepas dari keputusan PBSI untuk tidak mengirimkan pemain pada edisi 2021.

Yang lebih memprihatinkan, kegagalan Indonesia bukan semata-mata karena kalah di babak semifinal atau final, melainkan karena minimnya jumlah pemain dan andalan yang bisa diharapkan untuk meraih gelar. Sebelum Kejuaraan Dunia dimulai, hanya ada dua pasangan ganda putra, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, dan satu tunggal putra, Jonatan Christie, yang masuk dalam unggulan papan atas. Beberapa nama lain seperti Putri Kusuma Wardani dan Sabar Karyaman/M. Reza Pahlevi berada di luar 10 besar unggulan.

Ketika para unggulan tersebut satu per satu tersingkir, peluang Indonesia untuk meraih gelar juara dunia semakin menipis, dan harapan hanya bergantung pada kejutan. Namun, kejutan yang diharapkan dari pasangan Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah hanya bertahan hingga semifinal, yang secara otomatis memastikan Indonesia kembali gagal meraih gelar juara dunia sebelum babak final dimainkan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.