bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menyatakan bahwa gempa bermagnitudo 6,7 yang melanda Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6) memberikan pelajaran penting mengenai paradigma mitigasi bencana kebumian. Ia menekankan perlunya tidak hanya fokus pada sesar utama, melainkan juga mempercepat pemetaan seismik yang lebih detail.
Menurut Daryono, pemerintah daerah harus menjadikan data kerawanan sebagai acuan utama dalam penataan ruang, termasuk pembatasan pembangunan di zona sesar aktif. Kesiapsiagaan, katanya, bukanlah pilihan tetapi kebutuhan mutlak untuk kelangsungan hidup di zona seismik aktif seperti Sulawesi Tengah.
Ia menjelaskan bahwa gempa M6,7 tersebut mengungkap kerentanan geologis yang mendalam. Gempa kerak dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif ini menjadi pengingat bahwa ancaman seismik di Sulawesi tidak hanya berasal dari jalur sesar utama Palu-Koro, tetapi juga dari percabangan sesar kompleks di sekitarnya.
Secara tektonik, kawasan Palolo dan Sausu merupakan zona tarikan (pull-apart) yang terbentuk akibat dinamika Sesar Palu-Koro. Ketidaksempurnaan pada jalur sesar geser utama menyebabkan peregangan kerak bumi yang melahirkan sesar-sesar turun, membentuk cekungan yang terisi endapan sedimen. Endapan sedimen yang lunak ini, menurut Daryono, cenderung mengamplifikasi gelombang seismik, sehingga bangunan di atasnya menerima guncangan yang lebih kuat.
Kerusakan infrastruktur yang masif menjadi bukti tingginya kerentanan fisik, di mana mayoritas bangunan yang terdampak adalah struktur non-rekayasa yang tidak memenuhi standar ketahanan gempa. Amblasnya jalur logistik utama juga menyoroti urgensi pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh dan perlunya jalur evakuasi alternatif.
Daryono merujuk pada catatan sejarah gempa di wilayah tersebut sejak 1983, 1995, 2005, hingga 2017, yang menunjukkan persistensi aktivitas seismik yang tinggi dan menegaskan bahwa wilayah ini sangat dinamis.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, per Sabtu (20/6) mencatat 2.319 rumah rusak akibat gempa. Total korban terdampak mencapai 8.586 jiwa dari 2.762 kepala keluarga. Pemerintah setempat telah menetapkan status darurat tanggap bencana selama tujuh hari, mulai 17 hingga 23 Juni mendatang.