bytedaily
Jumat, 03 Juli 2026 - 16:32 WIB

Pakar Peringatkan Ancaman Geologis Selain Sesar Palu-Koro Pasca Gempa Sulteng

Redaksi 22 Juni 2026 20 views
Pakar Peringatkan Ancaman Geologis Selain Sesar Palu-Koro Pasca Gempa Sulteng
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam mitigasi bencana kebumian menyusul gempa Magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6). Menurutnya, fokus tidak bisa lagi hanya pada sesar utama, melainkan perlu dipercepat pemetaan seismik yang lebih detail.

Daryono mengimbau pemerintah daerah untuk menjadikan data kerawanan sebagai dasar utama penataan ruang, termasuk pembatasan pembangunan di zona sesar aktif. Ia menegaskan bahwa kesiapsiagaan merupakan kebutuhan mutlak di wilayah seismik aktif seperti Sulawesi Tengah.

Gempa M6,7 tersebut, yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif sebagai gempa kerak dangkal, mengungkap kerentanan geologis mendalam di wilayah tersebut. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ancaman seismik di Sulawesi tidak hanya berasal dari jalur sesar utama Palu-Koro, tetapi juga dari percabangan sesar kompleks di sekitarnya.

Secara tektonik, kawasan Palolo dan Sausu terbentuk sebagai zona tarikan (pull-apart) akibat dinamika Sesar Palu-Koro. Ketidaksempurnaan pada jalur sesar geser utama menyebabkan peregangan kerak bumi yang melahirkan sesar turun, membentuk cekungan yang terisi endapan sedimen. Endapan sedimen lunak di wilayah cekungan ini diketahui dapat mengamplifikasi gelombang seismik, sehingga bangunan di atasnya menerima guncangan yang lebih kuat.

Kerusakan infrastruktur yang masif menjadi bukti tingginya kerentanan fisik, di mana mayoritas bangunan yang terdampak adalah struktur non-rekayasa yang tidak memenuhi standar ketahanan gempa. Amblasnya jalur logistik utama juga menyoroti urgensi pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh dan perlunya jalur evakuasi alternatif.

Daryono merujuk pada catatan sejarah gempa di wilayah tersebut sejak 1983, 1995, 2005, hingga 2017, yang menunjukkan persistensi aktivitas seismik yang tinggi, menegaskan bahwa wilayah ini sangat dinamis.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, mencatat hingga Sabtu (20/6) sebanyak 2.319 rumah rusak akibat gempa. Total korban terdampak mencapai 8.586 jiwa dari 2.762 kepala keluarga. Pemerintah setempat telah menetapkan status darurat tanggap darurat yang berlaku selama tujuh hari dari 17 hingga 23 Juni mendatang.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.