bytedaily - Melansir laporan dari techcrunch.com, Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) telah menambahkan beberapa perusahaan Tiongkok, termasuk produsen kendaraan listrik (EV) BYD, Nio, dan perusahaan baterai CALB Group, ke dalam daftar entitas yang diduga mendukung militer Tiongkok.
Penambahan ini meningkatkan potensi kesulitan bagi perusahaan-perusahaan Amerika untuk menjalin hubungan bisnis dengan entitas yang terdaftar, sekaligus berpotensi memperkeruh hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Tiongkok.
Daftar yang dikenal sebagai daftar 1260H ini merupakan salah satu instrumen yang digunakan AS untuk memberlakukan pembatasan terhadap teknologi Tiongkok. Sebelumnya, Presiden Donald Trump telah menggunakan tarif, termasuk pajak 100% untuk EV impor dari Tiongkok, sebagai bentuk tekanan.
Pembaruan daftar 1260H ini sempat dipublikasikan pada bulan Februari sebelum ditarik kembali dari Federal Register tanpa penjelasan yang rinci.
Sebagian besar pemain besar di industri kecerdasan buatan Tiongkok kini masuk dalam daftar ini, termasuk Tencent yang ditambahkan tahun lalu. Hal ini terjadi seiring dengan pernyataan Trump yang mempertimbangkan kemungkinan AS mengambil kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan AI terkemuka Tiongkok.
Dengan penambahan terbaru, daftar tersebut kini mencakup total 188 perusahaan. Selain BYD dan Nio, perusahaan baterai CALB Group dan EVE Energy juga turut ditambahkan. Robosense, salah satu produsen sensor lidar terkemuka di Tiongkok, kini bergabung dengan pesaingnya, Hesai, dalam daftar tersebut. Baidu sendiri merupakan salah satu pemimpin Tiongkok dalam pengembangan kendaraan otonom.