bytedaily
Sabtu, 04 Juli 2026 - 21:11 WIB

Perajin Teknologi Merakit 'Cyberdeck' Nyentrik sebagai Bentuk Resistensi terhadap Dominasi Big Tech

Redaksi 03 Juni 2026 10 views
Perajin Teknologi Merakit 'Cyberdeck' Nyentrik sebagai Bentuk Resistensi terhadap Dominasi Big Tech
Ilustrasi visual (Sumber: techcrunch.com)

bytedaily - Dilansir dari techcrunch.com, tren merakit 'cyberdeck' atau komputer DIY (Do It Yourself) yang unik dan artistik semakin populer, terutama di kalangan perempuan. Inisiatif ini tidak hanya didorong oleh estetika yang nyentrik, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi perusahaan teknologi besar (big tech) yang cenderung homogen dan membatasi kustomisasi perangkat.

Salah satu perajin yang dijuluki "open source baddie" berinisial CC, menceritakan pengalamannya membuat cyberdeck unik berbentuk tas kerang berwarna pink. Perangkat tersebut tidak hanya berfungsi sebagai komputer mini, tetapi juga dapat digunakan sebagai e-reader, terhubung ke server pribadi untuk mengakses data seperti PDF dan buku, serta terintegrasi dengan pengaturan AI lokal. CC, yang tidak memiliki latar belakang teknik komputer, mendokumentasikan proses pembuatannya di blog Bimbo Tech agar perempuan lain dapat mengikutinya.

Konsep cyberdeck sendiri berawal dari novel fiksi ilmiah "Neuromancer" karya William Gibson pada tahun 1984. Popularitasnya meningkat pesat dalam beberapa bulan terakhir berkat para perempuan di media sosial yang berbagi proses pembuatan komputer bergaya feminin dan artistik. Berbeda dengan produk teknologi yang umumnya berwarna hitam atau silver, cyberdeck ini hadir dalam berbagai gaya, termasuk tasHello Kitty untuk memeriksa email, atau bahkan boneka Barbie yang menyembunyikan komputer mini.

Creator Sarahbelle Kim dalam sebuah unggahan TikTok menyatakan, "Saya tidak ingin kacamata Meta AI. Saya ingin membajak buku dalam cangkang kecil yang dihias." Ia menambahkan, "Tidak ada yang bisa mengawasi Anda di sana. Anda bisa mendapatkan beberapa bagian dasar di toko barang bekas atau eBay dan memodifikasinya."

Selain motivasi estetika, para perempuan yang membuat cyberdeck ini juga merasa perlu mengambil kembali kendali atas teknologi yang mereka gunakan. CC mengkritik keterbatasan perangkat dari perusahaan besar seperti Apple. "Saya suka melihat orang mengambil kembali kekuatan ke tangan mereka, mengambil kendali kembali ke tangan mereka, yang jelas selalu berarti kreativitas ketika orang diberi sarana untuk keluar dari kotak hitam," ujarnya.


Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi techcrunch.com.